REVIEW BUKU BELAJAR ZERO WASTE: MENUJU RUMAH MINIM SAMPAH

07.46

Penulis        : DK Wardhani
Tahun terbit : Agustus 2018
Penerbit       : Pustaka Rumah Main Anak (RMA)
Jumlah halaman : 180

SAYA MEMILIH PEDULI


Bagaimana jika ternyata membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup?

Bagaimana jika sebagian besar TPA akan overload pada tahun 2020?

Cukup pedulikah kita ketika Indonesia dikatakan sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar didunia?

Sungguh saya ingin mendengarnya di debat capres yang sedang bergema saat ini. Siapapun pilihannya, pastikan itu mereka yang memiliki kemauan untuk berwawasan lingkungan. Pastikan itu mereka yang peduli untuk mengurusi segala sampah dan limbah. Yakinkan bahwa itu mereka yang malu ketika negaranya dikenal sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ketiga didunia.

Karena ; sehebat apapun programnya, memangnya akan jalan jika masyarakatnya sakit akibat sampah membukit?
Secanggih apapun teknologi untuk swasembada pangan, memangnya akan bisa mengolah sawah yang tercemar limbah pabrik dari segala penjuru.
Sekuat apapun usaha untuk mengembalikan kejayaan maritim semasa Majapahit, apa iya bisa jika terumbu – terumbu karang terbelit ratusan ton limbah plastik.

“Haiiishh..gek saya ini siapa to?!”
Biar sajalah orang diluar memperdebatkan tentang apa. Paling tidak saya sudah mencoba berusaha memilih untuk peduli.

Dan buku ini adalah teman yang menyenangkan saat saya belajar peduli. Disajikan dengan bahasa ringan yang penuh kejujuran. Mengapa saya bilang begitu? Itu karena penulis buku ini, Mbak DK Wardhani menuliskan buku “#belajarzerowaste; Menuju Rumah Minim Sampah, berdasar pengalamannya secara riil. Beliau aktif menerapkan dan mengenalkan konsep zero waste dan minim sampah dimulai dari rumahnya.

Yang saya suka, buku ini dilengkapi dengan infografis, foto dan tips yang dicetak dengan menarik. Bahkan kita diajak langsung untuk belajar mempraktekkan konsepnya dengan mengisi jurnal didalamnya. Tahapannya diringkas menjadi Cegah – Pilah – Olah. Tiap tahapan diberi penjelasan dan contoh riilnya. Pada akhirnya diharapkan peduli sampah itu dimulai dari rumah.

“Gek yo opooo isooo??”

Bagaimana akan tahu jika kita tidak pernah berusaha mencobanya?



   Dimulai dari ‘Cegah’. Penulis menjelaskan bahwa Zero Waste atau minim sampah harus diawali dengan kemauan untuk mencegah penggunaan sampah secara berlebihan. Keluarga harus lebih sering ‘say no to plastic’ dan benda sekali pakai. Lalu bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga jika menghindari sampah sebisa mungkin? Penulis dengan jelas akan menjawabnya secara mendetail dan menggunakan kata-kata yang mudah diterima.
   Manajemen sampah berikutnya adalah ‘Pilah’. Menurut penulis, kita harusnya mengenali jenis-jenis sampah yang dihasilkan dari rumah tangga kita. Pengkatagorian sampah akan dijelaskan dengan mudah oleh penulis lengkap dengan menggunakan ilustrasi yang menarik. Sampah tidak boleh dibuang ke TPA begitu saja tanpa memilahnya. Idealnya, kita sebaiknya mengolah sampah organik untuk menjadi kompos, dan menyetor sampah anorganik ke bank sampah.(hal.92).

    Penulis menyarankan agar kemudian tiap rumah melakukan kegiatan ‘olah’ sebelum memutuskan membuang sampah ke TPA atau mensetorkannya  ke bank sampah. Buku ini kemudian memberi penjelasan secara lengkap tentang bagaimana tahapan kita mengolah sampah. Penjelasan terpanjang adalah pada pengolahan sampah menjadi komposter. Langkah demi langkah pembuatan komposter, dideskripsikan secara jelas di buku ini. Lengkap dengan foto dan ragam tanya jawab yang sering muncul bagi pemula yang ingin mengolah sampahnya menjadi komposter.
      Selain mengolah sampah menjadi komposter, penulis juga menjelaskan mengenai pembuatan lubang resapan biopori dan Ecobrick. Meskipun ecobrick sekarang semakin populer, penulis menekankan bahwa membuat ecobrick adalah pilihan terakhir setelah semua mulai dicegah, menggunakan kembali, dan mengirim ke bank sampah. (hal.124). Langkah pembuatan ecobrick juga dijelaskan di buku ini.
          Buku terbitan Rumah Main Anak ini bermanfaat dijadikan acuan bagi mereka yang ingin lebih peduli memanajemen sampah dimulai dari rumah. Buku ini juga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Kita diajak untuk praktek langsung dengan mengisi jurnal yang dibuat untuk memudahkan kita mulai mengelola sampah. Jurnal di buku ini juga sederhana dan dimasukkan di beberapa bab. Tips-tips bagaimana mulai memanjemen sampah menuju konsep Zero Waste juga disajikan dengan bahasa lugas dengan ilustrasi menarik. Dengan buku ini kita akan yakian bahwa menuju rumah minim sampah bukanlah hal yang mustahil.



“Menuju Nol Sampah bukan menjadikan kita sebagai malaikat, tapi menjadikan kita sebagai manusia yang lebih peduli dan bertanggungjawab.”(DK Wardhani)

You Might Also Like

34 comments

  1. Whaa tertarik sekali membacanya. Hiks aku nih yang klo minum jus masih kurang afdhol kalau gak pakai sedotan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah, sedotan sudah seperti barang wajib di restoran. Agak susah juga menghindarinya , padahal lamaaaa terurainya

      Hapus
  2. Iya yaa, rumah tangga itu menghasilkan limbah yang cukup besar. Makanya pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah masing-masing. Semoga kesadaran mengelola sampah ini bisa dilakukan oleh semua lapisanmasyarakat, karena kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Pasti bukunya keren, bisa jadi inspirasi untuk kurangi limbah rumah tangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Limbah rumah tangga yang kita kira sepele itu ternyata kalau ditotal menghasilkan jumlah limbah yang menyesaki tempat pembuangan akhir. Memang perlu usaha yang lebih besar untuk menjaga kesadaran mengelola sampah ini

      Hapus
  3. kok keren sih bukunya ada ilustrasinya gitu, jadi pengen beli juga hehe. makasih sharingnya bun. buku recomended ya ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Steff ini buku memang recommended banget. bisa mampir ke webnya aja untuk ketersedian bukunya www.rumahmainanak.com

      Hapus
  4. Alhamdulillah, sudah beberapa lama ini kami mencoba menerapkan zero waste. Beberapa kali dianggap aneh saat belanja di kedai karena nolak plastik pembungkus. Semoga kita bisa istiqomah dengan zero waste ini apalagi kini negara kita merupakan penghasil sampah plastik kedua terbanyak di dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah..hebat mbak Haeriah. Saya baru mencoba-coba nih. Memang kadang berasa jadi kayak alien, saat kita berusaha nolak plastik pembungkus atau beli masakan pakai wadah sendiri. Tetep semangaaat ya

      Hapus
  5. Dilengkapi dengan jurnal utk diisi. Shg bs praktek langsung dan dicatat dl jurnal. Cara ini memudahkan kita mulai mengelola sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, jurnalnya cocok banget untuk pemula seperti saya

      Hapus
  6. Buku bagus! Penerapannya memang membutuhkan kerjasama yang baik di dalam lingkungan sekitar, minimal RT/RW. Dari rumah tangga sudah memilah sampahnya, pengurus masyarakat bersama-sama menyediakan bak sampah sesuai peruntukannya, baru kemudian dikelola dan dibuang ke TPA. Duh, jadi kepengen memulai ini di lingkunganku. Memang betul deh, sampah plastik kita sudah begitu menggunung. Sedih melihatnya puluhan tahun masih dalam wujud yang sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul sekali. akan lebih mudah penerapannya jika didukung kerjasama di lingkungan sekitarnya. karena kadang yang berat dalam memulai seperti ini adalah adanya perasaan sendirian

      Hapus
  7. Aduh sayang banget mbak di lingkungan itu sampah diangkut seminggu sekali. Aku selalu pisahkan sampah plastik dan engga tapi tetep setelah ditaruh di tempat sampah depan si sinterklas (tukang sampah panggul) selalu mengacak lg.. sedih aku tuh. Mudah2an di lingkunganku semua warga bisa lebih aware lg tentang sampah yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah mbak, sistem angkut sampah DPU itu satu truck dicampur aduk. walaupun dipisah, tetep saja kata mereka, SOPnya ya ditaruh satu truck barengan gitu

      Hapus
  8. Waah, menarik mbak. Aku pengen bukunya. Beli di mana mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya belinya PO online lewat teman saya, coba kalau untuk ketersediaan saat ini bisa hubungi FB: Pustaka RMA atau email: pusaka.rma@gmail.com atau web: www.rumahmainanak.id / www.minimsampah.com

      Hapus
  9. Sampah dari dulu selalu memjadi masalah ya bun, masyarakat sendiri banyak yang kurang peduli dengan limbah, tertama limbah plastik, semoga denga adanya buku ini, masyarakat bisa lebih peduli dan paham cara mengah sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups. semoga makin mengedukasi orang awam seperti saya dan masyrakat biasa lainnya

      Hapus
  10. Sementara ini langkahku zero waste baru bawa tas belanja sendiri dan berusaha menolak plastik untuk membungkus. Dan..ya milah sampah, meski enggak ngefek banget karena di bak sampah di"udal-udal" lagi sama pemulung atau pengambil sampah..duh!
    Aku setuju sekali dengan misi buku ini yang memulai zero waste dari rumah. Karena kalau tidak dari diri sendiri yang memulai ya bakal susah.
    Trimsss telah mengingatkan tentang menjaga lingkungan lewat review buku yang keren ini, Mbak Dewi:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meski kadang dianggap aneh ya , mbak saat kita menolak kantong plastik atau menyodorkan wadah makanan sendiri hehe.. aya juga masih perlu komitmen lebih nih untuk istikomah

      Hapus
  11. Idiih, aku jadi malu nih, masih konsumen plastik. Terimakasih informasinya mbak, buat pertimbangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga masih belum pure lepas plastik kok mbak, syusaaah .. tapi berusaha yuk

      Hapus
  12. Dudududu.. menuju rumah minim sampah. Bisa gak ya? Secara snack dan kemasan plastik masih sering digunakan. Apalagi mau zero waste. Sepertinya saya kudu baca buku ini biar bisa on the track menjaga lingkungan mulai dari diri sendiri ya mbak��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Plastik memang sudah menjadi bagian hidup yang sulit terpisahkan. Tapi sedikit demi sedikit, bisa lah kita berusaha mengurangi

      Hapus
  13. Aku sudah mulai gabung dengan bank sampah di kotaku. Cuma masih bermasalah dg sampah organik. Aku kurang rajin menjadikannya lebih bermanfaat padahal sudah aku pisahkan sampah organik dan anorganik. Semoga ke depannya bisa lebih baik dan lebih banyak belajar tentang zero waste 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bank sampah memang cukup membantu ya, mbak. Saya juga belum mbuat komposter gitu, sisa sampah organiknya banayk yang dimakan ayam tetangga

      Hapus
  14. Saya sering baca postingan mbak DK Wardhani di IGd dan memang sangat menginspirasi. berawal dari situ saya juga mulai pengen melakukan zero waste yang ternyata mudah jika ada niatan yang kuat. makin mantap deh beli buku ini. Mbak belinya dimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul, mbak Dini ini memang menginspirasi. Dulu saya belinya PO online lewat teman saya, coba kalau untuk ketersediaan saat ini bisa hubungi FB: Pustaka RMA atau email: pusaka.rma@gmail.com atau web: www.rumahmainanak.id / www.minimsampah.com

      Hapus
  15. Aku msh pr mba mslh sampa ini. Terutama yang plastik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga baru memulainya , mbak.. syusaaaah juga ternyata lepas dari plastik secara total :)

      Hapus
  16. aku juga sudah mulai sejak lama. Mengurangi plastik dan memilah sampah.

    BalasHapus
  17. Soal tas kresek ini yang masih sulit saya hindari mbak. Duh, harus mulai sekarang bergerak, nih. Ngeri dampaknya, ya.

    BalasHapus
  18. DK Wardhani bukunya bagus². Selalu pengetahuan sekitar kita. Kami berusaha juga minim sampah, terutama plastik nih...

    BalasHapus
  19. Tema bukunya sangat dekat dengan keseharian kita. Salut dengan quote terakhir dari Penulis tentang Sampah...

    BalasHapus