Saung Belajar Aisyah

    • Home
    • ruang keluarga
    • ruang kelas
    • ruang baca
    • ruang menulis
    • ruang impian
    Assalamu'alaikum Sahabat Belajar, tak terasa sebentar lagi bulan puasa yaa. 
    Mulailah beberapa emak scroll scroll menu untuk variasi berbuka nantinya. Belum lama ini sekolahan saya mengadakan kegiatan P5 untuk tema kewirausahaan, salah satu kelompok siswa ada yang membuat menu kekinian yang nyegerin. Namanya Squash Bunga Telang dan Gimbab. 


    Awalnya, saya tidak merasa tertarik untuk mecoba menu gaya anak sekarang ini, tetapi setelah mencicipi karya mereka, saya kok jadi suka. Resep mereka ini rasanya pas. Untuk yang squashnya seger manisnya pas, penampilannya pun juga cantik keunguan. Sedangkan gimbabnya dibuat berisi sayuran dan sosis pedas, tidak terlalu Korea banget rasanya, eheehe, gimbab kearipan lokal , kata mereka. Yuk, kita coba resep squash dan gimbab ala mereka ini.

    Peralatan Membuat Squash Bunga Telang:
    - Gelas 
    - Sendok
    - Mangkok kecil
    - Panci 
    - Sendok sayur

    Bahan Membuat Squash Bunga Telang:
    - Sirup rasa  leci (buatan sendiri)
    - Sprite
    - Es batu
    - Jelly nata de coco
    - Selasih 
    - Bunga telang
    -       Irisan tipis lemon jika suka

    Proses produksi Squash Bunga Telang:
    • Siapkan bahan sirup rasa leci yang dapat diperoleh di toko-toko bahan kue
    • Buat sirupnya sesuai petunjuk, dan biarkan mendingin setelah jadi. Simpan di botol atau wadah.
    • Buat cairan bunga telang, dengan cara didihkan lima gelas air, masukkan bunga telang. Bisa memakai bunga telang segar atau bunga kering. Kami memakai yang segar. Didihkan selama sepuluh menit. Saring pakai saringan halus untuk membuang bunganya. sisihkan airnya.
    • Siapkan irisan nata de coco di sebuah wadah.
    • Siapan selasih yang sudah direndam dalam sedikit air di sebuah wadah.
    • Mari mulai meracik minumannya, ini untuk gelas plastik ukuran sedang.
    • Tuangkan tiga atau empat sendok sirup pada gelas, tergantung selera manisnya.
    • Beri irisan nata decoco dan selasih.
    • Tambahkan es batu sampai hampir penuh gelas lalu beri sprite.
    • Terakhir tuangkan satu atau dua sendok air bunga telang, warna akan jadi keunguan.
    • Jika suka, bisa ditambahi irisan tipis lemon sebagai topping. 
    • Sajikan dan nikmati segera.

    Bagaimana? Kebayang kan segarnya. Cocok saat buka puasa di cuaca panas. Atau bisa juga sebagai alternatif jualan takjil saat bulan Ramadhan nanti. Siswa kami mencoba julan produk ini di panen raya P5 tema kewirausahaan, dan antuasiasme pembelinya ternyata cukup tinggi.
    Untuk menu makanannya, kita akan coba praktek membuat Gimbab. Sebenarnya ini resep masakan Korea aslinya, tetapi rasa dan isiannya disesuaikan dengan lidah orang sini saja. Mungkin hasil akhirnya tidak se Korea yang anda bayangkan. Menu ini cukup untuk jadi porsi makanan yang tidak terlalu berat sebelum sholat tarawih. Mari kita coba praktekkan resep gimbabnya.

    Peralatan memasak Gimbap:
    - Telenan
    - Panci
    - Teflon
    - Spatula
    - Pisau 
    - Ceting
    - Piring
    - Baskom

    Bahan produksi Gimbap
    - Nasi hangat
    - Minyak
    - Garam
    - Ladaku
    - Wortel
    - Bayam
    - Telur
    - Sosis
    - Nori
    - Mayo
    - Bawang (untuk bumbu pedas)
    - Cabai (untuk bumbu pedas)
    - Kaldu jamur

    Cara Membuat Gimbap: 
    • Campurkan nasi dengan garam, diamkan sebentar agar tidak terlalu panas
    • Potong wortel bentuk memanjang.
    • Rebus bayam, setelah direbus peras bayam hingga tidak ada air
    • Setelah itu tumis wortel dan bayam sebentar, tambahkan sedikit air dan kaldu jamur. Sisihkan.
    • Goreng telur dengan dibumbui sedikit irisan bawang merah dan cabai merah besar tipis.
    • Setelah itu potong omelet telur bentuk memanjang.
    • Masak sosis dengan bumbu pedas untuk variasi Gimbap pedas.
    • Racik jadi bentuk gulungan gimbab: Ambil 1 lembar nori beri nasi dan isian sayur, telur dan sosis, setelah itu gulung memanjang. Sajikan di piring kecil, lengkapi dengan topping mayones, saus tomat atau saus pedas, dan dibubuhi sedikit wijen panggang. 
    Nah, itu tadi share resep seger-segeran untuk variasi berbuka puasa. Untuk bumbu dan kelengkapan menu tersebut, dapat anda sesuaikan dengan selera anda sendiri. Resepnya praktis dan cukup mudah untuk dibuat, apalagi dibuat barengan dengan si kecil dan si kakak. Pasti lebih seru. Selamat mencoba :)









    Continue Reading

     

    “Welcome to my  dream house!” I smiled from ear to ear as I lead my best friend, Eri entered the unfinished gate of my new house on that bright Sunday morning. A dream house for my small family. Me, my husband, and my two kids. A house of our own, stepping out from our parents’ den.

    “Your dream has come true!” she said.

    Yes, my best friend know that I’ve always dreamt of having a house of my own which is only some small steps away from a mosque; with a wide yard and garden full with green shades of flowers or trees. Oh, what a dream!

    Eri walked eagerly into the front yard, “Look at this shady mango tree! It’s so refreshing here. Let’s pick up some mangoes and ... “ 

    “Arrhhh..arff..arfff..arff!” my neighbor’s dog started barking wildly. Eri was certainly a strange smell for him. “Aarff..arfff!” he was barking even louder and louder from my neighbor’s house as we were standing under the mango tree at my front yard.

    Eri’s enthusiastic look then changed into a pity look in an instant. That look on her eyes told me how she definitely knew that a loud barking dog could not be part of the ideal picture of my dream house.

     “I’ve picked some mangoes for you yesterday. Let’s come in and enjoy your favorite rujak!” I grabbed Eri hands when she showed a glimpse of worried look to the dog at my next door house. 

    “Don’t worry! Chiko is in a solid cage. He will not run here!” I assured her.

    “Chiko?” Eri asked me. I had never told her about this dog before.

    “That dog. The dog’s name is Chiko, “ I explained briefly, with a hope no more curious discussion about this dog.  

    But I knew I’ve learned that most of my guests did not really enjoy the sound of barking dog when they were stepping into my house. Their looks sometimes were so clear to show that a dog near my new dream house was ruining the perfect image I’ve built. 

    Well, I understand that for most moslems, the word ‘dog’ is referring something called ‘haram’ or  forbidden. It’s stated in our holy Qur’an that moslems are forbidden to eat dog’s meat. It’s not about HATING dogs, actually. But the reality is some moslems around my small town have a kind of bad stigma toward dogs and their owners. The non-moslem persons who have dogs will look so different in our neighborhood where most of them are moslems who think that dogs are ‘haram’ things to be avoided.

    I don’t hate dogs but the pity look from most of my guests made me even harder to accept warmly to Chiko’s presence as part of my dream neighborhood.

    My daughter had a different view about this. She accepted the presence of our neighbor’s dog  with all of her heart. 

    “Chiko..Chiko,” she cheerfully called that dog from our terrace whenever she came home from school. And then that cunning white furry Kintamani dog would run here and there , wagging his tail happily, also barking, but in the different tone. It was heard softer and not wild. It’s not the loud noisy sounds as usually addressed to strangers. 

    “Don’t let your kids play around near that house with the dog,” the other neighbor living behind our home advised. And then she passed another story as we started a warm chit chat as new neighbors, “That family had moved here with their dog many years ago from Bali . I heard the husband’s parents were not Indonesians. Their ancestors were from Philipphines, I heard.” 

    “Oh, I see. That’s why they cannot speak Javanese well,” I said.

    Since then, I had tried to limit my kids’ interaction to that house with the dog. But, my daughter objected with it, “ But Mum, Budhe and Pakdhe Agus are very kind. Moreover Chiko is not a wild cruel dog.”

    She never called ‘that dog’ or ‘the dog’. For my daughter, the dog was deserved to be called with a name like a human being. And Chiko was his name. 
    Well, she’s actually right to the fact that the dog owners are really good neighbors to us. My daughter calls them Pakdhe and Budhe Agus, the short form of the husband’s name Mr. Agustinus. Pakdhe and Budhe are the polite remarks for calling respected older persons in Javanese. It sounds like Aunty and Uncle. 

    Pakdhe and Budhe Agus often give some snacks or sweet treats to my kids whenever they come home from some activities at their church or going out somewhere. They also kindly share their kelengkeng whenever it bears fruits. They are one of the most helpful neighbors we have.

    Our house and Budhe Agus’s house is only separated by a wrought iron fence, as tall as an adult’s shoulder. We often have a chit chat without even opening our gates. Chiko always joined our conversations while walking around on their terrace and front yard. Maybe it’s just a kind of paranoid, but I had a kind of worried that the dog would eventually jump up high into our house and bite one of my kids.  Phew!  Thank’s God, it’s only part of the imagination hanging inside my head. Chiko never jumped into my house through the fence. 

    My daughter laughed at my ‘unreasonable worries’ about Chiko jumping high chasing and biting us. “Mom, Chiko is a kind of loyal guardian dogs. He would never attack people who is kind and familiar to him,” she explained like a dog expert.

    “Moreover, we have to be proud with Chiko. He is Kintamani dog. And Kintamani dog is the first Indonesian dog breed to be recognized internationally,” my daughter eagerly showed me an article at the internet about it.

    Hmm, all of her ‘dog expert style’ is because she loves reading Trubus magazines that I often bought. Trubus is a famous Indonesian magazine about plants and animals. She also keens on watching grooming dogs and cats as pets at Animal Planet.

    Moreover, she also loved to have a chat with Joshua, the only son of that Agus’s family. They sometimes had interesting chats about dogs. He studied in a university at the different town. He usually went home once in a month or during his school holiday. He played with his dog a lot whenever he stayed at home. 

    But that evening was a kind of horror. My little son was screaming out loud, running frantically from our garage. He was trembled, “Chiko .. The dog.. Chiko.. is in our garage!”

    I grabbed a broom nearby tried to shoo away that creature. 

    “Aaarf .. aarrrff!” Chiko was barking closer and closer.

    I slammed the garage door just before he stepped into our living room. I was occupied with fright and rage. How could this dog ran away from that house! They said they would always lock their gate, never let Chiko out. “But, see! The dog is stepping into my house!”

    My daughter, however, reacted calmly. I saw her hugged her little brother, tried to calm him down.

    “Hey, don’t be afraid. Chiko just wanted to get to know you more. Next time, don’t run. And Chiko will not run chasing you, okay?”

    Her little brother smiled, feeling silly to his overreacting toward the presence of Chiko that evening. My daughter then opened her room window and shouted cheerly, “Budheeee...Chiko is running away to my house!”

    Budhe hurriedly came out and tried to put Chiko back to her house. She apologized many times, assuring that it was an accident when Pakdhe forgot to lock the gate before driving out. She assured me that it wouldn’t happen again. And as I could remember, maybe a kind of that incident only happened just once or twice after that. 

    We got used to Chiko, but still I couldn’t accept him warmly in my heart. I was in quick alarm when at a time I saw my daughter petting his head from the fence, trying to pass a bone from our kitchen. 

    “I’ve warned you many times not touching that animal. Don’t you understand! It’s najis when your body or your clothes get its saliva. Najis!,” I gave a stern look to her innocent eyes. Najis means ritually unclean in our religion.

    “I know, Mom. I have learned it. I don’t have physical contact with Chiko often. I also don’t ask a dog for a pet. But, I just can’t hate him for being ‘najis’. I just want to give him the bones that he really likes, “ she tried to explain, ” Moreover, we can clean it.  In our religion, we are taught how to clean that kind of dog’s saliva najis. I have washed my hands seven times, with soil at the first.” 

    I was startled by her remark. I always thought that my daughter will lose her deep faith in our religion if she has a slight love for a dog in her heart. I often think that it’s a kind of bad luck to have a non-moslem neighbor with a dog in their house. But, the reality shows it’s okay to have them as neighbor. It is not threatening our faith. Moreover, I believe that God let us to live in this kind of neighborhood as part of our fate. Understanding and respecting our different neighbor is the best choice that my daughter tried to show. Including the fact that they had a dog; Chiko.

    Chiko was getting old. “He had not eaten well for many days and didn’t move too much,” I heard Budhe explained to my daughter when she wanted to give a bone for Chiko. 

    “Maybe he missed Joshua, he had not go home for three months,” she said. She believed Chiko was severely ill but he tried to survive to be able to meet his master, Joshua. She could see it from Chiko’s eyes. She kept explaining as if she really understands that dog. I hid my laugh to the assumption that she shared.

    Then, one night Joshua went home. My daughter and I were having chit chat with Budhe by the fence at that time. He rushed to meet Chiko which barked weak. When he got Chiko in his arms, Chiko’s breathing was labored. Jo moved Chiko’s head a little closer to his chest and Chiko’s breathing was even weaker. That night Chiko was died peacefully in his master’s arms.

    I saw teardrops hanging in my daughter’s eyes. Strange. I couldn’t help these teardrops dropping from my eyes either. I learned, maybe too late, that my daughter showed how she could accept and loved the dog, respecting her different neighbor, without even loosing or decreasing her faith.

    Continue Reading

    EDUTRIP KE MUSEUM AIR WATER FOR LIFE

    KE JOGJA BAY TIDAK SEKEDAR MAIN AIR SAJA

    Tahukah anda Jogja punya sistem pengairan yang hebat sejak dulu kala? Apa itu ya Selokan Mataram? 

    Eh, Jangan pakai tisu banyak-banyak lho. Sstt.. pakai tisu banyak-banyak itu berarti kita tak sayang air. Lhoh kok bisa, Cuma tisu ini?

    Si kecil kami mendapat jawabannya di Museum Air di Jogja Bay.

    Mengunjungi Jogja bersama si kecil pasti akan tambah lebih seru jika menyempatkan ke Jogja Bay. Sebuah Waterpark besar dengan area sekitar 7,7 hektar di sebelah utara pas area Stadion Maguwoharjo, Depok. Berbagai wahana yang ada dapat anda cek di akun ig mereka:  Official Account Jogja Bay (@jogjabay). Di situ akan selalu di update berbagai promo harga menarik dan jam bukanya.

    Saat memasuki area Jogja Bay, kita akan diingatkan untuk tidak boleh bawa makanan dan minuman dari luar. Ada berbagai kios pujasera di dalamnya. Setelah membeli tiket di loket depan, pengunjung akan diperiksa secara mendetail barang bawaannya. Kalau di tas kita ada makanan atau minuman, mereka akan menyimpankan dulu. Tapi kalau tidak mau ribet, lebih baik makanan dan minuman dari rumah kita taruh di mobil saja.

    Untuk barang bawaan berupa handuk dan baju ganti dapat kita simpan di loker. Harga sewa lokernya Rp. 30.000. Jangan takut tak kebagian, ada banyaaak loker disana. Lokernya cukup leluasa kok. Kami sekeluarga cukup memakai satu loker saja. Kalau lupa bawa handuk, di sana juga menyediakan sewa handuk sekitar Rp.20.000. Mau sewa gazebo juga bisa. Apalagi kalau perginya barengan kakek nenek, menyewa gazebo jadi pilihan yang oke.

    Ke waterpark jelas untuk main air sepuasnya ya.  Untuk wahana main air, Jogja Bay sudah cukup juara deh. Wahana main airnya beragam. Tapi kali ini keluarga kami menikmati pilihan lain setelah puas main air. Kami menyempatkan mengunjungi Museum Air yang berada di dekat area teater pertunjukan, sebelum pintu keluar. 

    Museum Air Water For Life di JogjaBay ini diluncurkan pada bulan November 2018. Memang harus bayar lagi sih untuk masuk wahana ini, waktu itu per orang baik anak atau dewasa membayar Rp.15.000. Sebanding kok dengan ilmu dan pengalaman yang akan kita dapat. Kadang ada juga promo gratis masuk ke wahana ini.

    Oya, saya sarankan anda mengecek dulu jam – jam masuknya. Ini karena paketnya dibuat seperti tur berkeliling dengan waktu keliling sekitar satu hingga satu setengah jam. Misalnya, sesi pertama dibuka jam 11.30 siang, maka untuk ikut sesi berikutnya anda harus menunggu tur sesi 12.30. Agar tidak menunggu lama, sebelum masuk maen air, anda dapat mengecek dulu ke gedung  Museum Air untuk merancang anda sekeluarga nantinya mau masuk sesi yang mana. Sekali tur, bisa untuk sekitar 20 – 30 peserta, tetapi tur akan dimulai sesuai jam tanpa menunggu penuh kapasitasnya.

    Waktu itu, saya dan si kecil ikut sesi siang, sementara si bapak lebih suka mengunggu di luar mengobrol dengan temannya. Sebenarnya, boleh juga anak – anak masuk tanpa didampingi orang tua, karena setiap tur akan dipandu oleh seorang tour leader dari pihak pengelola. Saya memutuskan ikut, karena si adek menurut saya belum mampu mengikuti arahan tour leader dengan baik.


    Setelah membeli tiket, sebelum masuk,  pengunjung museum dipersilakan menggunakan jas ala pratikum gitu. Tersedia berbagai ukuran disana. Selama tur pengunjung dilarang merekam atau memfoto tanpa ijin dari tour leader. Jangan khawatir, nanti banyak kok spot-spot yang diperbolehkan untuk mengambil foto, misalnya spot 3D diantara ikan hiu atau spot foto yang membuat kita seakan sedang berada di kapal selam kuning imut.


    Tour dimulai dengan berjalan memasuki area Teater Air. Ruangannya seperti layaknya gedung film kecil. Disitu kami diajak melihat tayangan mengenai pentingnya menjaga air dan upaya untuk melestarikannya. Salah satunya adalah tentang ‘Selokan Mataram’. Si kakak yang suka sejarah setengah berseru excited, “Buk, aku pernah moco kui. Di pelajaranku ada.”

    Bagi pengunjung yang masih TK kebawah, mungkin akan sedikit bosan , karena tayangannya agak lama, sekitar 20 menitan. Sebaiknya sebelum masuk dijelaskan dulu pada si kecil, bahwa nanti akan ada tayangan agak lama dan sebagian area tur nantinya disetting dengan suasana gelap. Setting yang cenderung gelap ini ditujukan agar dapat membawa suasana hutan hujan di sepanjang perjalanan menjadi lebih hidup. 

    Setelah melihat tayangan di teater Air, kita akan dibawa berjalan ke semacam lorong dengan suasana hutan hujan, sungai dan air terjun. Di sepanjang perjalanan, ada keterangan yang dapat dibaca dan dipegang disana-sini. Tour guide juga sangat ramah dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan. Ada juga satu lagi tayangan tentang siklus air dan suasana pantai di tengah perjalanan. Tak ketinggalan tentu saja diorama penjelasan pengelolaan air di perkotaan lengkap dengan diorama, salah satunya adalah diorama Selokan Mataram yang melegenda itu.


    Anak-anak sangat excited ketika sampai di area percobaan. Suasananya kali ini terang, seperti di sebuah laboratorium para penemu hebat. Tour guide sudah menyediakan berbagai percobaan IPA sederhana dengan air. Misalnya yang paling disukai si thole adalah bagaimana air di berbagai gelas dapat menghasilkan bunyi yang berbeda.

    Bagaimana alur perjalanan air di tubuh manusia juga dapat diamati dan dipraktekkan dengan menyenangkan. Terdapat berbagai fakta tentang air ditampilkan dengan bentuk yang dapat dibuka tutup, cocok untuk anak-anak yang memang susah diam. Pada bagian akhir disajikan fakta tentang pencemaran air dan bagaimana cara menanggulanginya. Termasuk soal pemakaian tisu itu. Hmmm .. ternyata selain dibuat dari kayu, si tisu itu sangat boroooos air dalam proses pembuatannya. Jadi kalau kita boros tisu, kita juga boros air. Tak baguuusss.

    Hemat air itu juga bagian penting dari edukasi. Gunakan air seperlunya dalam kehidupan sehari-hari. Upayakan untuk menggunakan produk yang eco-friendly.
    Memang semboyan museum ini adalah ‘Water for Life- Air untuk Kehidupan'. Kenyataannya, kita memang tidak bisa hidup tanpa air. Air sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Kalau kita tak mau peduli, siapa lagi?
    Itulah pengalaman kami mengunjungi Museum Air ' Water For Life' di Jogja Bay. Yuk, belajar mengenal air lebih dalam di museum ini.



    Continue Reading


    Tak terasa ya sudah lebih dari setengah tahun kita hidup di masa wabah korona. Susah juga saat gerak kita terbatas dan dibayang bayangi ketakutan akan bisa tertular. Tetapi ada hal positifnya juga saat waktu kita jadi jauh lebih banyak di rumah saja. Salah satunya : Tanaman – tanaman sekitaran rumah jadi bersemi kembali. Duluuu menyiram saja kadang lupa. Rumah kosong saat semua sekolah atau kerja. Berangkat pagi pulang sudah hampir menjelang magrib.

    Saya sih sebenarnya hanya tim penggembira saja hehe.. bukan petani militan. Di rumah kami yang semboyannya ‘Berani Bertani’ itu si sulung saya –gendhuk Aisyah dan bapaknya. Mereka memang suka bertanam sejak dulu. Mungkin karena dulu waktu belum punya rumah, kita kan hidupnya di pondok mertua indah di pedesaan. Nah si gendhuk itu kan dimomongke mbah nya jadi dia terbiasa diajak ke kebon dan sawah. Sampai sekarang  dia sudah remaja pun tetap suka tanaman, meskipun kita juga sudah pindah ke rumah sendiri.

    Ini nih beberapa tanaman di rumah kami yang sekarang bersemi kembali. Rasanya jadi makin sedeep dipandang saat daun – daunnya menghijau. Apalagi jika sudah mulai berbuah

    Mangga

    Ada tiga pohon mangga di sekitaran rumah kami. Sekarang pohon mangga itu makin subur. Semuanya berjenis mangga arumanis walaupun kenyatannya tidak semua pohon buahnya manis. Yang paling manis yang di depan rumah ini. Kalau pas banyak buahnya bisa dibagi –bagikan ke tetangga.

     Yang dua pohon di belakang rumah masih agak ada asem asemnya. Apalagi kalau masih muda. Kecutnya minta ampun. Tetapi tidak kami tebang karena malah lebih enak kalau di jus. Ada seger –segernya. 

    Satu pohon yang di belakang rumah itu padahal dulu sudah hampir mati, daunnya banyak sekali yang mengering dan rontok. Sekarang sudah seger lagi meski tanpa disemprot pupuk buatan. Rupanya pohon juga perlu kasih sayang ...eaaa.

    Tomat ijo dan cabai

    Di belakang rumah, ada sebidang kecil yang kita beri paranet di sekitannya. Maksudnya agar tidak dimasuki ayam. Niat hati memang ingin menanam beberapa tanaman sayuran, tapi alesan sibuk sering menjadkannya sekedar wacana.

    Dulu nanamnya  kurang dirawat jadi kurang maksimal juga hasilnya. Sekarang saat waktu jadi lebih banyak di rumah, kami kembali menanam cabai  rawit dan tomat hijau. Memang tanaman itu kalau dirawat dengan baik penuh perhatian , hasilnya beda. Tomat dan cabainya jadi lebih segar. Saat mau membuat gereh sambel ijo favorit kami, tinggal petik – petik saja.
    Masakan yang biasa – biasa saja pun jadi bisa lebih sedep karena bahan –bahannya lebih seger. Hanya saja kami belum konsisten niat nanem –nanemnya. Masih mudah bosan untuk nanem yang sayuran seperti ini , hehe. Sekarang malah lebih tertarik ke tabulampot buah dan bebrapa bunga.

    Cery Ndeso

    Ini tanaman aslinya saya tidak begitu tahu apa pasti namanya. Hanya karena bulat merah trus disebut cery gitu oleh orang-orang. Padahal rasanya tidak seperti cerry yang di mall itu. 
    Buah yang ini kulitnya hampir seperti talok atau biji salam, tapi lebih besar. Dalamnya lembek berbiji satu atau dua agak besar. Rasanya manis kalau sudah matang, dan agak ada sepet sepert sawo saat belum terlalu matang.

    Pohon ini dulu hanya ngangkut sepot –potnya dari rumah mertua.. haha.. kami tidak menanamnya sendiri dari biji.  Ibuk mertua saya  yang tinggal di desa sebelah ini memang tangan dingin untuk urusan bertanam. Nanam apaa saja jadii.

    Pohon inipun dulu saat dipindah ke rumah kami hampir menyedihkan keadaannya. Kurus kering merana dan sedikit banget saat berbuah.  Maklum merawatnya juga alakadarnya. Saat pandemi ini, si pohon jadi banyak mendapat perhatian. Dipupuk, disiram secara teratur. Bahkan kadang dibelai belai sambil njemur cucian hehe. Potnya ada di dekat jemuran soalnya.
    Ini dia hasilnya...  belum lama ini si pohon berbuah dan buahnya jadi lebih banyak. Segeeer banget dilihatnya. Daun- daunnya yang hijau tua dan agak keras kontras dengan si bulir bulir buah merah yang bergelantungan.

    Nah itu tadi beberapa tanaman yang bersemi kembali di sekitaran rumah kami. Tentu saja kita berharap pandemi ini segera berakhir, tetapi kadang perlu juga mencari hal positif dari masa wabah ini agar tidak stress. Bertanam bisa jadi salah satu alternatif hal positifnya. Selamat menanam.


               Salam menanam,





    Continue Reading

    Tidak terpikirkan sebelumnya rumah kami bisa berhias taman bunga matahari secantik ini. Selama pandemi korona, waktu memang lebih banyak dihabiskan di rumah. Yang dulunya rumah hanya seperti tempat untuk tidur, sekarang rumah penjadi pusat melakukan banyak hal sepanjang hari. Menanam salah satunya.



    Banyak yang bilang saat pandemi seperti ini yang paling laris dan trend adalah ‘pit dan pot’ setelah tik tok tentu saja. Hehe.. Pit itu bahasa Jawa untuk sepeda dan pot itu maksudnya semua yang berkaitan dengan kegiatan tanam menanam. 

    Dampaknya bagus juga. Rumah – rumah jadi semarak dengan yang ijo – ijo. Berjajar pot – pot dengan berbagai bunga atau sayuran. Demikian juga rumah kami. 



    Sebenarnya bapaknya anak-anak dan sulung saya itu memang sudah hobi menanam sejak dulu. Setiap jalan-jalan piknik, yang mereka cari itu toko yang jual tanaman atau alat pertanian. Berbagai sayur dan buah sudah dicoba ditanam. Kali ini mereka katanya mau menanam banyak bunga matahari di depan rumah. Semua warga rumah pun jadi bersemangat dengan ide tersebut.

    Persemaian

    Pertama menyiapkan persemaian. Rumah kami bukan berada di dataran tinggi yang subur, jadi persemaiannya harus di buat dulu dari tanah yang gembur beli dari toko pertanian. Daerah kami cukup panas dan kering, saat biji muncul jadi kecambah bisa kurang optimal kalau langsung disebar di tanah depan rumah yang konturnya keras.



    Biji – biji bunga matahari yang akan kami tanam adalah pemberian seorang teman. Biji itu lalu kami semai di polybag – polybag kecil yang telah diisi tanah gembur yang sudah dibeli kemaren dulu. Ujung  bawah biji kuaci yang lancip dibenamkan ke tanah dan bagian atas kuaci dimunculkan sedikit dari permukaan tanah.



    Sirami dengan siraman lembut saja. Tiga empat hari kemudian muncullah kecambah bakal anakan bunga matahari.

    Penanaman

    Kami memindah tanaman bunga matahari setelah kecambah – kecambah itu menjadi semakin tinggi. Tanah depan rumah yang akan jadi tempat menanam dipaculi dulu kemudian dibuat jadi dua galengan. Dengan dibuat galengan, tanaman tidak terendam air saat hujan dan lebih rapi juga.



    Buat lubang – lubang kecil untuk menanam anakan bunga matahari. Satu lubang kami isi dengan dua tanaman anakan. Idealnya satu lubang untuk satu anakan yaa. Tapi semaian biji kami terlalu banyak padahal tempat terbatas. Sampai sebagian diberikan ke tetangga. Duh, saking semangatnya menanam.

    Perawatan

    Untuk pupuk, kami menggunakan pupuk kandang. Beberapa saudara ada yang memelihara kambing, jadi kami bisa minta limbahnya untuk pupuk.



    Tentu saja tidak lupa disirami secara teratur. Tugasnya anak-anak ini. Mereka tidak bosan – bosan menanyakan kapan bunganya muncul dan mekar. Padahal muncul bunganya sekitar dua bulanan kemudian.

    Jangan lupa mencabuti rumput-rumput liar di sekitar tanaman bunga. Saat bunga – bunga meninggi, kita juga bisa mengambili daun-daun kering di bagian bawah agar tampilannya lebih segar.



    Yeaay akhirnya bunga- bunga matahari itu bermekaran. Senengnya melihat kuncup – kuncup bermunculan dan mekar jadi bunga indah berwarna kuning cerah. Bunga matahari yang kami tanam ini modelnya yang tidak bercabang gitu. Tapi kelopak bunganya lebih besar dan warnanya lebih cerah.  Kalau di googling bunga matahari kami termasuk bunga matahari kategori tinggi, tapi nama pastinya saya kurang faham. Karena ternyata jenis bunga matahari itu banyak juga.

    Bunga matahari atau dalam bahasa Inggris 'Sunflower' ini masuk dalam genus Helianthus - 'helios' artinya matahari dan 'anthos' artinya bunga. Bunga dalam genus Helianthus ini terdiri hampir 70 spesies yang berbeda. Dan saya masih harus lebih banyak belajar Biologi rupanya untuk menentukan jenis spesies apa bunga matahari di rumah saya ini  :)

    Dulu kami pernah diberi saudara biji bunga matahari mammoth Jepang. Kuacinya besar dan katanya bunganya nanti juga mekar besar. Tapi waktu itu kami gagal, sebagian kuacinya tidak tumbuh dengan baik, sebagian lain habis dithotholi pithik eh ayam.. ayam.

    Makanya kali ini kami senang sekali ketika bisa berhasil sampai mekar. Menjadi hiburan tersendiri saat melihat pertumbuhan bunga atau berfoto-foto di antara bunga indah. Gadis saya berfotonya sudah seperti piknik  ke taman bunga saja.

    Manfaat  Bertanam Kami

    “Ngopo buu nanduri kembang garbo gitu, mbok ditanduri lombok nopo terong rak kenging ge masak”, hehe tukang sayur langganan protes. Dia memang sudah akrab dengan ibuk-ibuk di lingkungan kami. Maksudnya : Buat apa to bu kok menanami depan rumah dengan banyak bunga matahari gitu, kan lebih baik ditanami cabe atau terong kan bisa untuk masak. Kami tertawa saja dengan protesan mas sayur.

    Memang kekurangan dari menanam bunga matahari adalah pada postur tanamannya yang meninggi dengan banyak daun. Bisa seperti menutupi rumah kalau depan rumahnya sempit. Apalagi kalau menanamnya tidak rapi. Beruntung , lahan pelataran kami cukup luas. Cita-cita kami berikutnya adalah bisa menanam bunga matahari yang jenis dwarf. Yang katanya sudah bisa berbunga walaupun batangnya pendek.


    mengambil kuaci


    Sekarang bunga-bunga matahari depan rumah itu sudah mengering. “Masa kejayaannya sudah habis buk,” kata sulung saya. 

    Selain dinikmati keindahannya, menanam bunga matahari juga rupanya memberi pelajaran ke anak-anak bahwa sesuatu itu tidak selamanya indah dan manis, suatu saat masa kejayaan bisa habis. Seperti bunga matahari yang tadinya dipuja –puja indah sekarang sudah tertunduk mengering. Biji bunga matahari kami tidak sebesar kuaci yang di jual di supermarket. Satu – satu bijinya kita kumpulkan untuk mbesok kalau pengen menanam lagi.

    Beberapa teman dan tetangga ada yang minta bijinya. Termasuk mas’e bakul sayur keliling yang protes dulu dong . haha.. katanya anak perempuannya yang masih SD pengen juga punya tanaman bunga matahari. Memang pesona bunga matahari itu kelebihannya adalah membuat hati lebih ceria. Mungkin karena kuntumnya yang seperti orang tersenyum gembira dengan warna kuning cerah.

    Selain untuk foto – foto, tanaman bunga matahari jadi bisa memunculkan ide si gendhuk sulung kami untuk edit –edit jadi video. Sudah beberapa video dibuatnya . Ini nih salah satunya , pas iseng dipasang di Youtube, ternyata ribuan viewersnya hehe..berarti kan tdak jelek jelek banget :





    Menanam juga mengajarkan anak rasa optimisme. Ada proses panjang di dalamnya yang akan berhenti kalau tidak ada optimisme. Tidak setiap biji bisa berkecambah, tidak setiap anakan menjadi tanaman bunga yang kokoh berbunga cantik. Tapi kalau setiap menanam sudah takut dulu- penuh pesimisme -  jangan jangan nanti tanamannya paling bakal mati atau dientekne pithik ; ya kita tidak akan pernah berhasil. Menanam hanya akan jadi wacana.

    Bagaimana, tertarik menanam bunga matahari juga? 



    Continue Reading
    Orang-orang dewasa seperti kita bisa saja terpengaruh dengan konflik budaya saat bergaul di masyarakat. Lalu bagaimana dengan anak-anak?
    Akhir-akhir ini kita dibuat miris dengan masih adanya pemberitaan tentang konflik di masyarakat yang melibatkan unsur beda budaya. Indonesia memang negara yang sangat kaya budaya. Saat masyarakat yang berbeda-beda budaya itu bergaul, bisa saja terjadi gesekan-gesekan yang jika dibiarkan bisa saja menyebabkan konflik.



    “ Tahun Baru itu ya selalu 1 Januari. Kok kamu bilang besok. Besok kan baru bulan September!” Suatu sore sayup sayup terdengar pembicaraan si kecil kami dengan temannya. Sang teman yang pindahan dari Pulau Batam protes mengenai tahun baru yang dikemukakan anak kami. 
    Si kecil kami tidak terima, bersuara lebih tinggi menyanggah, separuh bahkan menggunakan bahasa Jawanya, “ Sesuk kiy siji Suro. Tahun baru ya satu Suro itu!”.

    Pembicaraan semakin memanas saat keduanya makin merasa benar sendiri. Waduuh, si kecil kami rupanya belum peka dengan konflik budaya saat berinteraksi dengan teman barunya.  Harus segera bertindak, nih.

    Saya teringat dulu waktu kuliah di jurusan pendidikan bahasa inggris UNNES, ada mata kuliah yang namanya ‘cross culture understanding’ . Budaya yang berbeda beda itu memang rentan menyebabkan adanya pergesekan. Salah satu caranya adalah dengan saling mengerti (understanding) budaya satu sama lain. Kalau kita sudah cukup mengerti maka diharapkan nanti kita akan bisa menyikapi dengan lebih bijaksana saat terjadi konflik yang dipicu keberagaman budaya .
    Keberagaman budaya itu berkah, tetapi disisi lain juga dapat memicu konflik bila tidak dijembatani dengan baik. 
    Anak-anak sejak dini sebaiknya dikenalkan dengan keberagaman budaya (culture diversity). untuk kemudian dijak saling menghargai perbedaan itu. Bukannya terus hanyut ikut-ikutan lho ya. bisa - bisa kita malah jadi krisis identitas budaya. Jangan sampai pula terus anak tidak mengenal budayanya sendiri. Kenalkan budaya sendiri dan budaya lain secara berimbang, dan tentu saja sebaiknya dengan cara yang menyenangkan. namanya juga anak-anak, mereka akan lebih suka jika dengan gambar atau permainan.

    Peta Budaya di Portal Rumah Belajar

    Setelah bertekad untuk mengajari anak kami untuk peka konflik budaya, saya jadi lebih rajin mencari-cari materi untuk mengajari si kecil kami itu.
    Untung saja, kami sudah mengenal portal Rumah Belajar. Itu lho, situs belajar online gratis yang dikelola oleh Pustekom Kemdikbud. Resmi milik pemerintah, untuk dimanfaatkan secara gratis oleh seluruh pelajar dan masyarakat Indonesia secara gratis. Klik saja di https://belajar.kemdikbud.go.id


    Di salah satu fitur utamanya, ada yang disebut fitur Peta Budaya. Setelah di klik bagian itu, muncullah berbagai materi tentang budaya di berbagai wilayah Indonesia.  Terdapat beberapa konten terbaru  seperti misalnya:
    • Komunitas Adat Samin
    • Malam Satu Suro
    • Ondel-Ondel
    • Homo Erectus
    • situs Gunung Padang
    • Rumah Seribu Kaki Papua
    • Komunitas Adat Batur
    • AR-Rumah Belajar
    • Next Door Land
    • dan lainnya

    Nah , ada pembahasan tentang malam satu Suro nih. Materi ini akhirnya kita kenalkan ke si kecil kami dan temannya itu, di tengah kegiatan bermain mereka. Ooo, ternyata satu suro itu tahun baru bagi masyarakat Jawa, dan bahkan dirayakan secara khusus di beberapa wilayah, misalnya di Surakarta dan Jogjakarta. Si kecil kami juga jadi tahu, bahwa Indonesia itu mempunyai banyak budaya yang berbeda-beda. Tidak perlu langsung ngegas, jika ada teman yang tidak sependapat, karena ya memang budaya mereka mungkin berbeda.

    Materinya cukup lengkap , selain tulisan, di fitur Peta Budaya ini dilengkapi dengan gambar – gambar dan beberapa ada tayangan videonya. Dan semua itu bisa diakses secara gratis. Keuntungan lainnya, isinya cenderung aman bahkan jika diakses oleh anak sendiri, karena isi konten di fitur ini dikembangkan oleh orang-orang yang memang berada di dunia pendidikan.  

    Dengan memanfaatkan fitur Peta Budaya ini , kita bisa mengajari anak untuk peka dengan adanya konflik budaya untuk kemudian bisa ada ‘understanding’ atau pemahaman antar budaya yang berbeda.


    Mengenal Budaya Secara Kekinian Di Peta Budaya

    Untuk mengenal budaya kekinian, di fitur Peta Budaya ini juga dilengkapi AR Edukasi; augemented reality edukasi. Guru atau orang tua dapat mengajak anak untuk berkenalan dengan augmented reality, contohnya mengenal tentang keanekaragaman budaya bali, atau mengenal sel hewan dan tumbuhan.

    Salah satu yang menarik lainnya adalah Game edukasi Next Door Land. Game ini dikembangkan untuk memudahkan anak untuk mengenal kebudayaan  Indonesia dan Australia. Game ini diprakarsai oleh Australian Government - Department of Forein Affairs and Trade, bekerjasama dengan Kemdikbud Indonesia melalui Rumah Belajar dan pengembang game AGATE. Next Door Land sudah tersedia dalam aplikasi android.

    Indonesia dan Australia merupakan negara yang hidup bertetangga atau dalam bahasa Inggris  bisa dikatakan dengan istilah : neighbour, atau lives next door. Itulah mengapa game ini diberi nama Next Door Land. Indonesia dan negara tetangganya ini masing-masing memiliki keunikan yang perlu dilestarikan dan tidak punah.  

    Dengan game ini, anak akan belajar dengan cara bermain. Terdapat 20 mini games di dalamnya. Misalnya game memukul kendang, sesuai irama yang ditentukan , untuk mengenal budaya gamelan di Jawa. Sebelumnya bermain, ada semacam comic strips menjelaskan tentang budaya gamelan dan alat musik kendang.



    Untuk membuat rasa kompetitif muncul, beberapa tempat akan terkunci, dan baru bisa dibuka saat kita sudah menyelesaikan tugas di mini game sebelumnya. Terdapat pula collectible artefacts, beberapa benda menarik dari wilayah Indonesia maupun Australia. Ini juga ada penjelasannya lho dan bisa dikoleksi saat nilai perolehan dari bermain game bisa mencukupi. Bisa menambah wawasan anak kan tentang artefak peninggalan budaya.



    Kita bisa ajak anak menjelajahi beberapa kota besar di Indonesia dan Australia , kemudian menjajal games untuk mengenal budayanya. Misalnya kita bisa ajak anak untuk klik tempat gamenya di kota Adelaide, Australia. Sebelum bermain akan dijelaskan mengenai sebuah bangunan ikonik di kota Adelaide yaitu Stadium Adelaide Oval. Sebuah stadium megah dengan arsitektur cantik yang telah berdiri sejak tahun 1871. 


    Keuntungan lainnya adalah, kita bisa juga mengganti-ganti setting bahasanya. Kita bisa memilih menggunakan Bahasa Indonesi a atau Bahasa Inggris. Nah, kalau memilih yang bahasa Inggris, anak bisa sekalian kita ajari banyak kosakata Bahasa Inggris. Dobel-dobel bukan untungnya.

    Tentu saja, peran orang tua untuk mengarahkan buah hati adalah yang terpenting dalam mengajari si kecil untuk memiliki pemahaman yang baik antar budaya. Rumah Belajar dengan Fitur Budaya nya adalah salah satu sarana yang dapat orang tua atau pengajar manfaatkan. Ajari anak untuk peka menghindari konflik budaya.  Ola Joseph, seorang pengarang dan pembicara terkenal dari Nigeria,  menyampaikan sebuah pendapat menarik tentang hal ini. Keberagaman itu bukan tentang bagaimana kita berbeda, keberagaman itu adalah tentang merangkul masing-masing keunikan yang dimiliki satu sama lain.

    “Diversity is not about how we differ. Diversity is about embracing one another’s uniqueness.” 

     - Ola Joseph.


    Salam,




    #bukansekedaroemarbakri


    Continue Reading

    Tradisi Membuat Apem

    Menjelang Ramadhan, apem kukus ini merupakan salah satu hidangan khas yang menjadi bagian dari tradisi Megengan. Di beberapa desa di wilayah kota tempat tinggal saya, Wonogiri, tradisi megengan masih dilaksanakan. Saat ini memang tidak semua warga menyelenggarakannya. Keluarga kami termasuk yang tidak mewajibkan mengadakan acara megengan menjelang Ramadhan. Tetapi memasak dan menikmati apem tetap menjadi salah satu hal yang ngangeni, bikin kangen masakan tradisional buatan rumahan biasa.

    Megengan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan. Di Wonogiri, megengan umumnya dilaksanakan sekitar dua pekan  sampai sehari menjelang puasa. Di beberapa tempat ada yang megengannya dilakukan secara berkelompok, di kebanyakan desa diselenggarakan per rumah secara bergantian. Rumah yang menyelenggarakan megengan mengundang tetangga-tetangga terdekatnya. Beberapa  menu makanan dihidangkan dan apem merupakan salah satu menu yang disajikan. Untuk kisah menarik Ramadhan dari blogger lain silakan baca disini

    Gadis kecil saya yang pernah melihat acara ini menjadi penasaran dengan pembuatan apem yang disajikan oleh pemilik rumah. Ada dua macam apem yang disajikan yaitu apem goreng wingko dan apem kukus. Bentuknya yang seperti conthong atau kerucut menjadikannya tampak beda dan menarik.
    "Eh . dibungkus dhong nongko , lho buk!" serunya ingin tahu. Hap..hap.. tahu - tahu sudah beberapa bungkus dilahap.

    Lha ini rahasianyaaa.. dikukus memakai godhong atau daun nangka. Apalagi jika dikukus menggunakan kukusan bambu di tungku api tradisional. Woow..rasanya yang legit manis dipadu aroma khas akan membuat kita terkangen kangen. Aromanya akan lain jika adonan apem ini dibungkus menggunakan daun lain yang lebih umum dipakai, daun pisang misalnya.

    Maka meskipun kami tidak merayakan megengan, kami ingin mengenalkan cara pembuatan kue tradisonal kepada gadis kecil kami itu. Kebetulan ada Budhe Tun, saudara dari ibu saya, yang pandai memasak kue tradisional ini. Prosesnya memang sedikit rumit bagi saya yang tak pandai bikin kue, dikukusnya juga tidak memakai tungku api tradisonal, tapi hasilnya tetep syedaap dan bisa mengobati rasa kangen.

    Resep Kue Apem Kukus Bungkus Daun Nangka

    Hari itu niat banget bahan-bahannya disediakan sejak awal. Ini karena dalam membuat kue apem ini ada proses membuat ragi sendiri dari tape singkong yang memerlukan waktu tidak sebentar.

    Ini dia bahan - bahan yang diperlukan untuk membuat apem conthong daun nangka:

    500 gram Tepung beras
    400 gram gula pasir atau gula jawa
    3 bungkus kecil tape singkong (haluskan)
    1/2 sdt ragi instan (optional)
    1 mangkuk sedang santan kental dari 1 butir kelapa
    Garam secukupnya
    3 lembar daun pandan

    Cara pembuatan yang pertama adalah membuat 'jladren' atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut adonan. Berikut cara lengkap membuatnya:

    1. Tape singkong dibuang seratnya, lalu dilumat-lumat dengan tangan.
    2. Tambahkan tepung beras dan gula pasir atau gula jawa sedikit demi sedikit berselang - seling sambil terus diuleni
    3. Tambahkan santan sedikit demi sedikit untuk mengencerkan adonan
    4. Masukkan ragi instan atau ada yang menyebutnya obat apem sambil diaduk
    5. Bila semua bahan tercampur, tutup wadah adonan/ jladren dengan kain bersih
    6. Diamkan jladren sampai mengembang (lamanya terserah, ada yang cukup satu dua jam, ada yang mendiamkannya sampai 5 jam)
    7. Buat conthongnya dari daun nangka yang disematkan dengan lidi
    8. Setelah mengembang, adonan dimasukkan ke conthong-conthong tersebut
    9. Kukus hingga matang sampai sedikit merekah (sekitar 20-30 menit)

    Membuat conthong dari daun nangka
    Hati-hati menuang jladren ke tiap conthong

    Gadis kecil kami excited sekali saat menuangkan jladren yang sudah jadi ke conthong daun nangka. Sepulang sekolah dia langsung ikut membantu sampai tidak sempat ganti baju dulu. ehehe.. Semangaatnya! Dia agak kesulitan saat membentuk daun nangkanya menjadi bentuk conthong. Daunnya yang masih segar dan agak keras jadi menyulitkan untuk dibentuk. Si bapak sampai akhirnya turun tangan membantunya. Rasanya makin lezat saat menikmati apem conthong dong nongko panas-panas hasil buatan sendiri.

    Sejarah Apeman dari Tanah Jawa

    Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa istilah apem itu sebenarnya dari bahasa Arab, yaitu afuan/afuwwun yang berarti ampunan. Dalam filosofi Jawa, kue tradisional ini dianggap sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Lalu lidah orang Jawa kemudian menyederhanakannya menjadi apem.

    Nah saat tradisi membuat apem dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan atau Idul Fitri, itu mereka maksudkan untuk saling meminta maaf menjelang hari suci tersebut. Dimaksudkan untuk menyambut bulan Ramadhan yang istimewa dan Idul Fitri yang suci dengan diri yang bersih dari dosa, meminta ampunan dari Allah SWT. Tradisi yang diadakan menjelang Romadhon disebut megengan. Yang menjadi pro kontra adalah ketika ada unsur memberi sesajen dalam acara tersebut. Ya pendapat orang bisa beda-beda sih. Semua punya dalil masing -masing. Tapi yang jelas si apem itu tidak ada salahnya dinikmati sebagai kudapan tradisional. Apalagi apem conthong daun nangka ini. Lezaaat dan ngangeni.

    Kalau ditilik dari sejarahnya. Si apem ini alkisah bermula dari zaman Sunan Kalijaga, salah seorang bagian dari Wali Sanga yang termasyur itu. Menurut cerita, seorang murid Sunan Kalijaga yang disebut Ki Ageng Gribig atau Sunan Geseng, waktu itu pulang dari ibadah haji. Beliau melihat penduduk desa Jatinom, daerah Klaten, banyak yang kelaparan.

    Tergerak membantu warga tersebut, Ki Ageng Gribig membuat kue apem lalu dibagikan kepada penduduk yang kelaparan. Untuk mengenalkan mereka pada Islam, beliau mengajak mereka mengucapkan lafal dzikir Qowiyyu ya Qowiyyu (Allah Allah Maha Kuat). Para penduduk itu pun kemudian menjadi kenyang, terbebas dari rasa laparnya. Ini kemudian memotivasi penduduk setempat untuk terus menghidupkan tradisi upacara Ya Qowiyyu setiap bulan Safar. Gunungan apem besar diarak untuk kemudian dibagi pada masyarakat yang berkumpul di acara tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan bersedekah lebih banyak.

    Acara Ya Qowiyuu di Klaten (gambar diambil dari antara.com)

    Falsafah Dibalik Kue Apem

    Kalau dipelajari lebih mendalam, kita dapat mempelajari falsafah dalam pembuatan kue apem tersebut. Jadi tak hanya enak, kue kukus tradisional ini juga memiliki makna yang mendalam.
    Begini falsafahnya kalau dikaji dari bahan-bahan pembuatannya.

    Apem itu kan bahan utamanya adalah tepung beras, dalam bahasa Jawa disebut 'glepung'. Kalau diamati, bentuk glepung itu kan seperti debu halus. Maka secara falsafahnya, glepung itu debunya jagad, debu semesta. Seperti sebuah gunung api, ketika erupsi akan menutupi bumi dengan debu, bersamaan dengan lelehnya lahar. Laharlah si santen. Santen, air perasan dari daging buah kelapa yang merupakan perlambang dari susu buah kehidupan, akan nguleni glepung. Glepung yang berasal dari padi itu dianggap sebagai buah dari tanah kehidupan. Sebuah kombinasi harmonis dari kehidupan yang ideal. Apalagi jika santen yang digunakan santen kanil berkualitas bagus, santen yang paling kental, apem yang dihasilkan akan luar biasa.

    Bahan-bahan tadi kemudian diaduk dalam satu wadah yang disebut 'jladren'. Kata jladren itu sendiri berasal dari kata jaladri yang berarti samudera; simbol air kehidupan yang luas. Maka jladren bermakna adonan yang berbentuk tiruan rupa samudra. Kalau menurut saya, ini dapat juga dijadikan sebuah pemaknaan agar manusia pembuat dan penikmatnya selain hidup harmonis, merasa sekecil debu, juga menjadi mempunyai ilmu dan kesabaran seluas samudra.

    Jladren apem itu kemudian perlu dienengke atau didiamkan beberapa waktu. Tujuannya agar meneb dan mengembang jika didang (dikukus). Jadi manusia itu tidak boleh grusa-grusu, tidak mudah pula sombong, tapi harusnya meneb.. berdiam barang sebentar untuk menjaga ketenangan diri. Meneb nya bisa dengan bersimpuh menenagkan diri saat sholat dan berdzikir dengan khusuk.

    Jadi secara garis besar falsafah yang terkandung dalam kue apem ini mencerminkan keharmonisan manusia sebagai bagian dari tata kosmos yang seharusnya dijaga tetap harmonis. Baik antar manusia, alam dan dengan Tuhannya. Tentu saja falsafah kue apem seperti ini mungkin akan anda temui beberapa versi lain, temasuk asal-usul sejarahnya. Yang penting maknanya baik.

    Ah, gadis kecil saya sih belum begitu paham akan semua falsafah itu. Apem conthong bungkus daun nangka itu tetap terlihat istimewa. Dan rasanya yang lezat, cara membuatnya yang unik membuat kue kukus tradisional ini semakin ngangeni.

    Bagaimana dengan kue tradisional di daerah anda? apakah juga mempunyai sejarah dan falsafah semenarik apem? Yuk mari lestarikan kuliner tradisional yang ada disekitar kita.

    Untuk menu lainnya, ayo baca juga yang satu ini : Es Bunga Telang Seger dan Gimbab untuk dicoba di rumah.

    Salam manis,










    Continue Reading

    Gaya belajar kok Reading/Writing?   Biasanya kan Visual - Auditory – atau Kinestetik. Yuk kita mengenal gaya belajar yang satu ini untuk membantu melejitkan prestasi anak kita di kemudian hari.


    Bukan rahasia bahwa setiap orang belajar dan menyerap informasi secara berbeda-beda. Otak kita memang diciptakan berbeda-beda dan cara berfikirnya pun juga berbeda-beda. Itulah mengapa tak perlu kita paksakan anak-anak atau murid kita untuk belajar dan berfikir dengan cara yang sama.

    Begitu pula ketika saya mengamati gaya belajar putri sulung saya, Aisyah. Apa yaa gaya belajarnya. Kalau pas hafalan surah Al-Qur’an dulu saya kira lebih cepat dengan mendengarkan murotal. Eh ternyata makin kemari saya amati dia itu lebih suka membaca asbabun nuzul nya dulu. Mengapa dan bagaimana cerita dibalik surah yang dihafalnya. 

    Pernah juga sih saya ikutkan test sidik jari untuk mengamati bakat dan gaya belajarnya ketika kelas 2 MI lalu. Hasilnya cenderung ke Auditory. Anak dengan tipe ini biasanya akan sangat terbantu dengan mendengarkan pelajaran saja. Saat belajar pun tak suka ada suara yang menganggu.Iya kadang dia begitu, tapi saat  ustadnya  hanya banyak bercerita pada pelajaran Sejarah Kebudaan Islam, tanpa sering menyuruhnya mengerjakan rangkuman atau mengerjakan latihan dibuku, eh nilai dia malah merosot. Lha ini anak sebenarnya Auditory bukan sih? 

    Kalau Visual sepertinya juga bukan. Anak tipe visual terbantu saat mengamati bagan , gambar atau flashcard, atau tayangan video. Dia terlihat kurang berbinar binar matanya saat belajar dengan cara itu. Kinestetikpun juga tidak teramati dalam dirinya. Inilah yang kemudian mendorong emaknya ini untuk mencari informasi lebih banyak tentang gaya belajar.

    Yups, mengetahui learning style/gaya belajar  akan dapat membantu anak kita agar lebih mengenal dirinya dengan lebih baik. Mengenal apa yang disukainya untuk sarana belajar. Mengenal cara yang cocok baginya untuk menyerap informasi pelajaran dengan lebih baik. Untuk kemudian dioptimalkan agar mendapat hasil belajar terbaik. Ini adalah sebuah konsep yang mulai populer di tahun 1970an, dan masih berkembang sampai sekarang.

    Macam-Macam Teori Gaya Belajar

    Secara umum ada 3 learning style yang kita kenal yaitu : Visual, Auditory dan Kinestetik.  Tetapi sebenarnya ada beberapa learning sytle yang didapati dalam dunia pendidikan, misalnya  yang dikemukakan dalam laman verywellmind.com :

    • LSP (Learning Style Profiler) 
    Ini adalah sebuah model yang dikemukakan oleh Chris J Jacson. Model LSP ini menyatakan bahwa gaya belajar itu dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor biologis, pengalaman dan pilihan pribadi.

    • LSI (Learning Style Inventory)
    Seorang ahli bernama Kolb mengembangkan sebuah computerized assesment  bagi siswa untuk menemukan gaya belajarnya. 

    • VAK (Visual-Auditory-Kinestetik) Learning style
    Ini adalah model yang dikembangkan oleh Neil Fleming di tahun 1987. VAK menjadi teori learning style yang paling populer di berbagai belahan dunia.  Dan di negara kita juga populer dengan ketiga gaya belajar itu.

    • VARK (Visual-Auditory-Reading/Writing-Kinestetik) Learning Styles
    Ini sebenarnya model dari Fleming juga, tetapi entah mengapa di negara kita gaya belajar Reading/Writing kurang populer. Kalau saya amati beberapa sumber dari luar, Reading/Writing Learning style ini banyak didapati di berbagai sumber literatur. Dan sejauh ini saya berpendapat bahwa putri saya itu cenderung bergaya belajar Reading/Writing, mungkin dengan sedikit campuran Auditory.

    Bagimana sih gaya belajar Reading/Writing itu?


    Dari VARK.com dan beberapa buku yang saya baca, gaya belajar Reading/Writing ini adalah tipe yang didapati pada seseorang yang terasa lebih memerlukan untuk membaca atau menuliskan informasi untuk mempelajari sesuatu. Pelajar dengan tipe ini cenderung menikmati banyak membaca dan mencatat. 

    Mereka lebih suka mendapatkan informasi yang disajikan dalam bentuk kata-kata. Materi pelajaran yang berbentuk text based akan lebih disukai oleh anak denga  gaya belajar ini. 
    Apakah anda atau anak anda termasuk bergaya belajar Reading/Writing?

    Menjawabi check list berikut mungkin akan dapat membantu untuk menentukannya. Jika jawabannya banyak yang YA berarti kemungkinan besar anda atau anak anda cenderung bergaya belajar Reading/Writing:

    1. Apakah anda merasa bahwa membaca buku termasuk buku pelajaran merupakan cara terbaik untuk menemukan informasi baru?
    2. Apakah anda sering mencatat saat guru menerangkan didepan kelas atau saat anda membaca buku?
    3. Apakah anda menyukaui membuat daftar ?
    4. Apakah anda menyukai membaca definisi dan membuat materi presentasi?
    5. Apakah anda suka asyik sendiri di kamar saat membaca atau menulis?
    Itulah beberapa contoh pertanyaan untuk mengenali learning style Reading/Writing. Anda dapat pula mencoba The Learning Style Quiz di laman homeschoolon.com. Ada akses untuk free printable sheet disana untuk semua jenis learning styles dalam teori VARK. Tentu saja setelah kuis ini diperlukan pengamatan lebih lanjut dari kita sebagai orang tua dalam kegiatan sehari-hari anak. Ini adalah sebuah proses, yang bisa jangka panjang. Quiz itu hanyalah sebagian dari alat bantu.

    Saya lihat, dia putri saya sering suka asyik saja di kamar untuk membaca atau menulis. Kadang catatannya bisa campur dengan mengambar sih. Atau sambil membaca sambil tangannya sibuk membuat sesuatu. Dia sebenarnya bukan anak yang diam saja sih. Dia juga aktif mencorat coret atau membuat prakarya atau memasak sesuatu.  Dia suka meringkas atau mempraktekkan hasil membacanya.

    Kalau saya amati kemudian lebih lanjut memang putri sulung saya itu cenderung lebih bersemangat saat membaca pelajaran dari buku atau sumber lain. Dia itu sebal sekali kalau PR nya berupa mengerjakan LKS yang memang tulisan materi pelajarannya tak banyak. Mana mau dia menyelesaikannya tanpa membaca buku pelajarannya. 

    Tips untuk anak yang bergaya belajar Reading/Writing 


    Setelah mengamati gaya belajarnya, kita kemudian dapat mendorong anak untuk memiliki learning habit atau kebiasaan belajar yang paling nyaman untuk mereka. Tujuannya agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukannya keterpaksaan.

    Untuk anak yang gaya belajarnya Reading/Writing berikut tips-tips belajar yang dapat diterapkan agar lebih sukses secara akademik:

    1. Mencatat saat pelajaran
    Tidak perlu menulis tiap kata per kata apa yang ditulis guru di papan tulis atau di tayangan slide. Tidak harus pula mengkopi setiap kalimat yang diucapkan oleh guru selama pelajaran. Sebenarnya akan lebih baik jika mendorong anak dengan gaya ini untuk mengambil informasi  dari guru dan menuliskannya dengan kata-katanya sendiri, dengan gaya bahasa yang mereka pahami.

    Mungkin beberapa anak berfikiran ‘ Ah, buat apa mencatat saat pelajaran. Aku kan cukup mendengarkan saja dan mengingat pelajarannya. Mencatatnya kan bisa nanti saja.’
    Yups, itu bisa saja pendapat yang tepat – untuk anak yang bergaya belajar AUDITORY!. Tapi untuk anak yang bergaya belajar Reading/Writing itu tidak akan optimal. Dorong dan ajari anak tipe ini untuk membuat ringkasan dengan praktis dan tepat.

    2. Menulis ulang dan membaca ulang catatan
    Catatan yang dibuat selama pelajaran biasanya bentuknya kurang rapi atau kurang lengkap. Anak tipe Reading/Writing ini kalau merasa tertarik dengan pelajaran, mereka akan menambah pengetahuan mereka dengan membaca sumber bacaan lain yang relevan dengan pelajaran tersebut. Karena kan kemampuan membaca mereka biasanya diatas rata-rata. 

    Nah , dengan menulis ulang dan membaca ulang catatan mereka bisa menambahkan  beberapa informasi tambahan terkait pelajaran. Hal ini akan lebih memudahkan mereka mengingat informasi dalam pelajaran dengan baik. Kalau bosan dengan bulpen yang sama, beberapa anak menyukai membuat catatan dengan warna bulpen yang berbeda.

    3. Membuat daftar
    Anak dengan tipe belajar Reading/Writing akan lebih mudah mengorganisasi pembelajaran di kelas dengan membuat list / daftar. 
    Misalnya di kamar anak saya, dia membuat daftar tentang urutan PR atau tugas yang harus dia kerjakan. Bentuk dan model tempelannya kadang berubah sesuai mood dia. Kadang dihiasi stiker dan ditulis dengan pensil. Kali lain dia menulis dengan crayon dan dihias gambar doodle ala dia. Suatu waktu dia membuatnya dengan komputer dengan tulisan MS Words atau malah dalam bentuk gambar dengan diberi teks lewat PAINT.

    Membuat daftar bisa juga tentang isi pelajarannya. Tak harus dalam bentuk rapi berurutan yang penting dapat membantu dia menata ide-ide pokok dalam pembelajaran tersebut. Bantu anak membuat daftar dengan model kesukaan dia. Jangan dipaksa atau dituntun terlalu banyak. Cukup diarahkan saja, bisa secara tersirat lewat obrolan atau pura-pura kita membuat semacam itu dan biarkan dia mencobanya sendiri. 

    4. Membaca dari sumber lain
    Mereka yang bergaya belajar reading/writing ini kan pada dasarnya sangat menikmati informasi yang disajikan berupa kata-kata tertulis. Jadi mereka pasti akan tertarik jika kita dorong untuk membaca dari sumber belajar lain yang relevan dengan pelajaran tertentu.
    Tidak harus dari buku text book, kenalkan pada mereka bisa saja informasi diperoleh dari ensiklopedia yang menarik, buku ilmiah populer, majalah atau situs internet.

    Sekali lagi jangan sodorkan setumpuk buku kemudian memaksa mereka untuk membaca. Ajak mereka untuk seolah-olah menemukan sendiri sumber yang tepat. Tentu saja caranya orang tua sebelumnya membaca isi dari beberapa alternatif yang akan diberikan ke anak. Letakkan secara acak tapi mudah untuk ditemukan anak. Lalu diskusikan isinya, saat dia teriak ‘ eh, ini sama lho dengan pelajaran IPA ku kemaren.’

    Lakukakan dengan suasana santai dan menyenangkan. Hal lain yang saya ajarkan ke gadis kecil saya adalah belajar efektif membaca dengan memperhatikan ‘daftar isi’. Kelihatannya sepele tetapi ini akan membuat dia lebih cepat mencari saat memerlukan informasi.
    Untuk sumber dari web, dampingi saat mengakses. Ajarkan cara menuliskan key words yang aman. Carikan pula situs-situs yang children friendly tapi penuh dengan informasi terpecaya. 

    Begitulah sekedar sharing mengenai gaya belajar reading/writing.  Ingat ya , tidak ada gaya belajar yang terbaik.  Tidak bisa dikatakan bahwa satu tipe belajar dapat dikatakan lebih baik dari tipe belajar lainnya. Beberapa orang bahkan dapat teridentifikasi memiliki tipe belajar yang multiple. Maksudnya seseorang bisa saja memiliki gaya belajar yang condong Auditory sekaligus Visual.

    Oya satu hal lagi, kita tidak boleh semudah itu memberi label gaya belajar pada seseorang. Perlu pengamatan yang teliti dan mendalam sebelum kita menentukan gaya belajar pada anak kita atau bahkan diri kita sendiri.

    Jadi apakah anda atau anak anda bergaya belajar Reading/Writing? Yuk amati lebih mendalam dari sekarang.

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me

    Dewi Apriliana
    An ordinary working mom who loves kids and teaching and reading
    Read More>

    Popular Posts

    • Making Appointment & Reservation by Phone ; Belajar Bahasa Inggris Yuk
    • Apem Kukus Tradisional yang Ngangeni
    • Giving Examples in English ; Materi Bahasa Inggris Lintas Minat Kelas XI
    • LANGKAH MUDAH MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK LDA
    • Smart Apps Creator (SAC) Sebagai Alternatif Media Pembelajaran Daring
    • Memanfaatkan Blog Sebagai Media Pembelajaran Jarak Jauh
    • Membuat Laporan Karya Inovatif Video Pembelajaran
    • Contoh Proposal Usaha untuk P5 Tema Kewirausahaan

    FOLLOW US

    recent posts

    Labels

    ruang baca ruang guru ruang impian ruang kelas ruang keluarga ruang menulis ruang perpustakaan

    Statistics

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top