THE UNTOLD HERO; Mengenang Kepergian Seorang Sahabat Istimewa

22.45


THE UNTOLD HERO; 
Mengenang Kepergian Seorang Sahabat Istimewa

Pagiku kali itu gelisah. Berita duka seakan merayap lewat uaran dinginnya angin pagi. Menelisik diantara beningnya embun bergulir di pucuk rumput. Menunggu sebentar untuk ditimpa hangatnya mentari hingga akhirnya hilang. Menguap. Lalu mengapa pula aku seperti berat. Sedang embun telah mencontohkan. Ketiadaan seseorang adalah kepastian. It’s just a matter of time.
“Selamat Jalan Ahmad Antoni, I see the hero lies in you,” kubisikkan lewat embun selepas bait Al Fathehah kukirimkan ke langit.

Tanyakan tentang kematian padanya. Dan dia akan menjawabnya ringan kadang masih disempatkan tersenyum. Vonis penyakit lupus yang dideritanya membuatnya sudah begitu akrab dengan keluar masuk rumah sakit. Sebutkan definisi segala rasa sakit. Nyeri, mual, demam, atau perih. Mungkin sebgaian besar dia sudah mengalaminya. Tapi bagi saya dia adalah tetap Ahmad Antoni anakku- di kelas bahasa pertamaku. Yang meski sering saya ledek ‘ngantukan’ , dia tak akan marah. Mencoba riang dan menebar optimis.

Mataku silau terpias matahari yang meninggi. Tapi hati ini belum mau beranjak dari kenangan. Ahmad dan kelas bahasanya memang akan selalu istimewa di hati. Tahun 2002-2003 itu kali pertamanya saya resmi mengajar segera setelah lulus dari perguruan tinggi. Jarak usia antara saya dan murid-murid yang tak terlalu jauh saat itu, membuat kami lekas akrab. Karena saya selalu menganggap murid adalah anak - maka murid-murid di kelas bahasa ini adalah anak pertama saya. Ahmad adalah salah satunya.

Saya ingat suatu saat tim debat bahasa Inggris dari kelas bahasa ku ini masuk final tingkat kabupaten. Ahmad bukanlah tim inti. Tapi saya ingat sekali wajah itu lah yang menyusul kami ke gedung DPRD seusai tim bertanding. Menemui tim yang terbersit kecewa karena dikalahkan dengan margin tipis sekali. Tak bisa jadi wakil Wonogiri ke propinsi. Entah bagaimana saya tidak ingat bagaimana Ahmad menyusul kami dari sekolahan. Saat itu sedang jam pelajaran. Tak mudah mencari ijin keluar.
Itulah dia. Membawa kembali keriangan karena dia tak akan peduli jadi bahan candaan. Membawa aura optimis itu meski kami tak menang.

Bertahun tak jumpa, dia sudah berkeluarga, lengkap dengan tiga matahari kecilnya. Kembali sesekali bersua saat dia kemudian menjadi ketua Solo Peduli Wonogiri, dimana saya menjadi salah satu bagiannya. Dia tetap sehat, ceria, aktivis masjid dan bersemangat berbagi. Seperti tak ada tanda-tanda dia sakit. Apalagi sakit serius seperti Lupus.

Yang jelas kemudian Ahmad sering keluar masuk rumah sakit. Ahmad divonis terserang penyakit Lupus. Sebuah jenis penyakit autoimun. Sistem kekebalan yang harusnya melindungi tetapi malah berbalik menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Bagian organ tubuh mengalami peradangan (inflamasi) kronis misalnya pada kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, atau bahkan sungsum tulang belakang.  

Penyakit lupus kemudian membuat persendian kakinya mudah nyeri. Sampai pernah sulit untuk berjalan. Tapi Ahmad selalu berusaha optimis. Kuat dan semangat. Masih aktif mencoba menafkahi keluarganya dengan berdagang online. Beberapa kali saya menyempatkan pesan lewat lapaknya; mulai dari bumbu penyedap tanpa MSG, buku parenting terbitan Solo Peduli, majalah Junior, kaos muslim dan tas beberapa kali. Karena kasihan?

Ahmad tak perlu dikasihani. Dan dia pasti tak akan pernah meminta dikasihani. Dia adalah benar-benar pedagang yang baik. Di tengah sakitnya, dia memberi pelayanan sebaik-baiknya. Penuh semangat. Amanah sekali dengan produknya. Seolah dia itu tidak sedang dalam keadaan sakit. Tapi ibu mana tak merasa tersentuh rasa kasihannya jika melihat anaknya sakit. Tiga tahun lalu saya bertemu dengannya di sebuah acara lomba antar TPQ di masjid dekat rumah. Ahmad dengan kruk di kakinya ikut dengan rombongan tim TPQ desanya.

Subhanalloh! Di tengah sakitnya dia masih menyempatkan menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungannya. “Ya kalau pas sakit, lututnya seperti ditusuk – tusuk bu. Kaki kadang sulit dibawa berjalan,” ringan dia menjelaskan. Takut tumpah air mata ini, segera saya pamit pulang sambil mendorong anak saya yang sedang di atas sepeda roda tiganya. Di sepanjang jalan menuju rumah saya ingat harus mengusap mata berkali kali dengan ujung jilbab. Beratnya rasa sakit yang ditanggungnya menggayuti mata ini. It’s not that easy, I know.

Malam merayap mengajakku berkaca di pantulan gelapnya langit. Malu betapa mudah mulut ini mengaduh, menggerutu , memuntahkan segala keluh kesah saat masalah muncul, padahal seringnya hanya sekecil kerikil. Malu akan seringnya lupa betapa mahal nilai sehat yang telah dikaruniakan-Nya. Sedang Ahmad, didampingi istri hebatnya, diantara riuh tiga anak-anaknya- sebisa mungkin tak melulu mengaduh. Sakit dipandangnya sebagai lahan ibadah. Tak menyurutkan semangat hidupnya.

Maka kukabarkan berita ini kepadamu kawan. Sebagai bentuk penghormatan, kasih sayang dan kebanggaan seorang ibu kepada anaknya. Ahmad, sungguh bu gurumu ini bisa melihat pahlawan itu ada padamu, meski tidak disiar-siarkan sekalipun. For me, You’re the untold hero.



(untuk Ahmad, yang telah berpulang pada usia 33 tahun, 4 juli 2018 di RS Moewardi)

You Might Also Like

28 comments

  1. Ketabahan menghadapi penyakit yg dideritanya krn menganggap Sakit sebagai lahan ibadah. Salut dengan semangat hidupnya.

    BalasHapus
  2. Iya, mbak. Almarhum ini pemikirannya super sekali semasa hidupnya. Saya belajar banyak darinya.

    BalasHapus
  3. Innalillahi wa inna ilaihi roijun. Semoga Ahmad Antoni husnul khotimah.
    Saya baru skrng tahu, penderita lupus, pria. Bbrp orang yg saya tahu, perempuan.
    Sehat selalu ya Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dari beberapa sumber memang menyatakan kalau kebanyakan penderita lupus adalah wanita . Almarhum Ahmad ini tahunya juga sudah dewasa.

      Hapus
  4. Innalilahi wa inna illaihi rojiun. Semangatnya wajib ditiru dalam menghadapi cobaan berupa penyakit. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAmiiin Ya Robbal alamiin.. semangat beliau dalam menghadapi sakit memang luar biasa.

      Hapus
  5. Ikutan sedih baca tulisannya Mba .. semoga Mas Ahmad mendapatkan tempat terbaik di Surga-Nya. Aminnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin. Ketabahannya menginspirasi saya untuk tidak mudah menyerah.

      Hapus
  6. Masyaallah, semoga kita semua diberikan kesehatan selalu dan sahabat yang telah berpulang mendapatkan tempat yang layak dan Allah ampuni segala dosa-dosanya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, semoga keteladanan almarhum menjadi amal jariahnya.

      Hapus
  7. Penderita lupus biasanya memiliki semangat hidup yang luar biasa,beberapa kali aku menemui sosok-sosok se-inspiratif Alm. Ahmad ini. Untuk almarhum semoga diberikan ketenangan dan amal ibadahnya diterima Allah SWT

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAMIIN, Terimakasi sudah berkunjung dan mendoakan Almarhum Ahmad.

      Hapus
  8. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun. Bisa saya bayangkan betapa bangganya Ibu memiliki putra seperti dirinya. Malu lah diri ini yang masih diberikan karunia sehat tapi malah masih saja mengeluhkan urusan lainnya.

    Semoga Ahmad memperoleh tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin. Ketabahannya sungguh membuat kita malu kalau sampai menyianyiakan nikmat sehat.

      Hapus
  9. Innalillahi wainna ilaihi roji'uun, turut berduka cita ibu. Semoga almarhum husnul khotimah.
    Salut dengan semangatnya bu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin. semoga keteladanannya ini menjadi salah satu catatan amal baiknya.

      Hapus
  10. Innalillahi wainnailaihi rojiun... Salut sama semngat hidupnya. Ilmu yang bermanfaat menebar kebaikan bagi orang-orang disekitarnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Dia tak henti menebar kebaikan meski fisiknya melemah karena penyakit itu.

      Hapus
  11. Subhanallah, salut dengan pak Ahmad ya Bu. Innalillahi wainnailaihirojiun semoga amal ibadah beliau diterima disisinya. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, salut untuk ketabahannya dan kegigihannya sampai akhir hayat. Semoga keteladanannya ini memberi tambahan amal untuknya.

      Hapus
  12. Innalillahi wainnaillahirojiun, semoga beliau khusnul khotimah,

    Berkaca kaca mata saya baca tulisan ini mbak

    BalasHapus
  13. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa'fuanhu.
    Ikut terharu bacanya. Saya juga punya teman yg kena penyakit autoimun. Semangat juangnya juga tinggi, Bund. Orang2 yg sangat menginspirasi di tengah ujian sakitnya. Pastinya ibu bangga sebagai gurunya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Iya, mbak.. membuat saya belajar darinya. Keteladanannya adalah melalui ketabahannya dan semoga saat kita bisa mengambil hikmahnya, pahala mengalir untuknya.

      Hapus
  14. Semoga Allah menerima amal ibadahnya. Dan sakitnya diganjar syurga. Ketabahannya memberikan inspirasi buat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin Ya Robbal Alamin. Semoga keteladannya yang menginspirasi kita akan menjadi ladang pahalanya

      Hapus
  15. Innalillahi wainaillaihi rojiun. Seorang imam dlm kluarga yg bertanggung jawab ya mb. Smoga diterima disisiNya Aamin...

    BalasHapus
  16. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihii wa'fu'anhu.

    Sungguh kisahnya mengandung banyak hikmah, pengingat bagi diri agar lebih pandai lagi bersyukur.

    Salam kenal, Mbak Dewi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saat kita terinspirasi dan dapat mengambil hikmahnya, pahala akan mengalir untuk almarhum Ahmad Anthoni.
      Salam kenal juga, mbak Henny. Terimaksih sudah menyempatkan mampir

      Hapus