Sekolah Harusnya Bebas Bullying; Inspirasi dari Buku ‘Jangan Berhenti Bermimpi’

19.30

Menjadi korban bullying itu tidak enak. Menyesakkan dada. Apalagi terjadinya di sekolah idaman favorit.  (Hal.100)
Itu adalah curahan seorang anak remaja yang menjadi tokoh utama di buku yang sedang saya baca. Sebuah buku yang ditulis dengan sepenuh hati oleh seorang bunda istimewa dari Bekasi.  Bunda Is saya menyebutnya, nama lengkapnya adalah Madaniyah Isfandriati.  

Bunda mana yang tidak sedih ketika kemudian putra kesayangan itu menyatakan mogok sekolah SMA. Mau jadi apa anak itu nanti? Apakah masih ada kesempatan untuknya bermimpi setinggi bintang? Untuk seluruh kisah yang akan menjawab tanya itulah, buku ini diawali dengan judul : 
JANGAN BERHENTI BERMIMPI.



Bullying Menjadi Titik Balik

Akhir – akhir ini media disekitar kita diramaikan oleh berita mengenai kasus bullying atau perundungan yang dialami dan dilakukan oleh remaja. Tagar saveaudrey terus menjadi trending topic sepekan ini.
Miris. Sekolah yang harusnya menjadi tempat belajar malah menjadi salah satu arena tumbuhnya bullying. Dua belas pelajar putri telah begitu tega menyakiti secara ejekan maupun kekerasan fisik terhadap seorang gadis remaja lain. Kita harusnya bisa belajar dari kasus ini. Salah satunya dapat anda baca dari artikelnya seorang blogger bernama Misjuli berikut :  Belajar dari Perundungan Audrey

Di dalam buku bersampul biru yang saya baca inipun, ada secuil kisah bullying yang kemudian menjadi titik balik. Menjadi momen dimana anak tersebut, dan keluarganya,  harus berhenti sejenak dan memikirkan langkah apa yang kemudian harus ditempuh agar pendidikan si anak tidak berhenti ditengah jalan. Sebuah masa yang berat untuk dilalui.

Bullying memang tidak harus dalam bentuk ditampar, dipukul atau disakiti secara fisik. Bullying bisa juga dalam bentuk memaksa untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran atau perasaan sesesorang. Inilah yang dirasakan Andri, si tokoh utama dalam buku ini. Saat masa orientasi siswa masuk SMA, dia merasa terluka saat dipaksa dengan kasar oleh kakak senior memakan sayur sop yang sudah mereka tuangi air mineral. Bayangkan saja bagaimana enegnya. Itu hanya karena sop yang dibawa Andri ke sekolah hari itu kuahnya tumpah dari wadahnya yang kurang rapat. Sebuah kesalahan yang tidak disengaja dihukum dengan perlakuan begitu keras tanpa konfirmasi. Yes, that's a kind of bullying.

Ah, apa susahnya sih makan sopnya. Mungkin bagi beberapa anak , itu hal yang bukan masalah besar, tapi bagi anak tertentu cara makan dengan diperlakukan seperti itu bisa sangat melukai harga dirinya. Bukan masalah makannya. Tapi lebih karena kekasaran berlebih atas suatu kesalahan yang bukan disengaja. Waktu itu bullying bahkan bisa masuk dalam sebuah kegiatan resmi sekolah atas nama MOS; Masa Orientasi Siswa.

Bersyukur MOS sekarang sudah berubah bentuknya. Kekerasan fisik sudah tidak diperbolehkan. Kata-kata teriakan kasar dan perintah yang mengada-ada dan tidak mendidik harus dihapuskan. Saat MOS, sekolah harus mengadakan kegiatan yang bersifat mendidik. Melatih siswa untuk tertib dan disiplin boleh, tapi tidak dengan cara yang kasar. Memang kegiatan sekolah harusnya bebas bullying.

Bagi Mas Andri, masalah yang dialaminya saat MOS itu ditambah dengan beratnya tuntutan padatnya kegiatan sebuah sekolah favorit. Semakin taknyaman hatinya. Ditambah kemudian perlakuan seorang guru kembali menyakiti perasaannya. Bagi Andri, it can be another kind of bullying.

Yah, memang di beberapa kasus, guru kadang memang bisa ikut merasa terbebani dari tuntutan sekolah demi mengejar tumpukan prestasi akademik. Hati-hati inilah celah yang bisa saja menimbulkan bullying dari pihak guru kepada siswa.

Saya sendiri guru, saya juga kadang merasa saat mengajar bisa semakin terbebani saat sekolah menekankan untuk terus berusaha mempertahankan prestasi akademik seluruh murid terus berada di puncak. Jangan sampai kalah dengan sekolah lain. Padahal namanya juga murid, tiap tahun juga berubah. Kemampuan murid – murid tahun ini bisa berbeda dengan murid-murid tahun sebelumnya. Kalau tidak disabar-sabarkan , yang bisa muncul adalah umpatan verbal yang membodoh-bodohkan si murid yang terlihat lamban mengejar prestasi. Kalau tidak berkepala dingin, yang bisa tampak adalah bullying berupa ejekan terhadap karya murid yang tidak sejalan dengan mau si guru atau sekolah.

Tokoh Andri dalam karya ini kembali terluka saat guru keseniannya berkata yang tidak semestinya atas karya musiknya. Memang karya Andri mungkin tidak sesuai dengan pakem yang dimaui guru atau tidak pas dengan tuntutan kurikulum seni saat itu. Akan tetapi, tetap saja saat guru, sebagai orang dewasa, kemudian memojokkan begitu saja tanpa memberi kesempatan pada si anak untuk menjelaskan, itu bisa saja sebuah bentuk bullying yang lain disekolah.
Bullying di sekolah bisa berkesempatan muncul di berbagai lini sekolah. Dan jika terjadi, itu bisa saja menghancurkan harga diri seorang siswa. Tujuan untuk mendidik anak agar mau belajar pun menjadi sia-sia. Tak tercapai.

Salah satunya adalah kemudian si Anak mogok sekolah. Inilah yang kemudian terjadi pada Andri.  Ayah bundanya tergagap saat Andri menyatakan mogok sekolah SMA. Bahkan untuk bangkit dari tidurpun, Andri mesti ‘perang’ dulu dengan diri sendiri. Berangkat sekolah menjadi beban yang sangat berat bagi dirinya. Beruntung ayah bundanya masih bisa bersabar menghadapinya. Beruntung dia kemudian tidak terjerumus ke pergaulan yang buruk. Beruntung kemudian anak ini diarahkan oleh Ayah Edy , seorang pakar parenting terkenal itu.

Andri kemudian beralih ke HS – Home Schooling. Tapi tahun itu, 2009, HS belum menjadi hal yang berterima luas seperti sekarang. HS terlihat sebagai anak yang tidak sekolah. Cibiran berikutnya diterimanya, “Masa bundanya pegawai kantoran lulusan S2 UGM, Bapaknya juga pegawai negeri bepangkat tinggi, S3 pula – anaknya kok ga sekolah.” (hal.104)

Tetapi ayah bundanya sepakat untuk menutup telinganya seolah-olah tak mendengar. Keluarga itu terus belajar bersabar dan mengabaikannya. Apalagi kemudian kedua adik Andri juga mengikuti jejaknya untuk HS. Bundanya pun kemudian sampai resign dari pekerjaan mapannya, salah satu tujuannya tentu saja untuk lebih membersamai Andri dan adiknya.

Dalam hati Andri bertekad, bahwa 4 – 5 tahun lagi , dia akan bisa membuktikan bahwa dia akan berhasil, walaupun bukan dengan jalur formal. Kuliah di Jepang adalah cita-citanya. Menjadi seorang ahli peneliti terumbu karang terbaik di dunia. Demi impian untuk menjaga terumbu karang di  lautan Indonesia agar menjadi tempat bernaungnya ikan dan segala ekosistem laut. (hal. 10)
Tapi perjalanan untuk meraih mimpi mendapat beasiswa kuliah di Jepang tidak mudah.  Itulah yang kemudian diceritakan lebih lanjut di buku ini. Akan lebih nges jika anda baca sendiri kisahnya.


Review Buku ‘Jangan Berhenti Bermimpi’

Saya sudah membaca buku Bunda is yang pertama, yang berjudul ‘ Rumahku Sekolahku.’ Kebetulan kami tergabung di group kepenulisan yang sama; Jenius Writing , atau yang biasa disingkat JW. Tahun lalu, seingat saya sekitar setelah Idul Fitri, saya berkesempatan bertemu dengan Bunda Is dan suaminya, Bapak Supra serta salah satu putranya.  Acara itu dilaksanakan di Hotel Aziza Solo, digagas oleh beberapa anggota komunitas JW di Solo. Beruntung saya bisa datang, setelah berhasil membujuk adik saya untuk membantu momongke kedua krucil saya. Soalnya kalau diajak, saya yakin kedua anak saya itu paling ndak betah duduk lama dan rewel.

Acara itu berlangsung dengan hangat, itu karena memang keluarga itu humble banget. Tidak mau dianggap pemateri, Bunda Is dan Bapak Supra bergantian berbicara, dengan konsep sharing. Bincang-bincang hangat mengenai pengalaman mereka membesarkan ketiga putra mereka melalui HS. Tapi mereka bukannya antipati sekolah formal lho. Hanya saja kebutuhan dan keadaanlah yang membuat mereka memutuskan HS sebagi sarana belajar putra-putra mereka. Kisah mas Andri ini sebagian sudah diceritakan dan juga dituliskan di buku pertama. Tetapi buku kedua ini tidaklah sama konsepnya dengan buku pertama. Dan ini pendapat saya mengenai buku ini.

Seorang pereview katanya sebaiknya bisa mengupas positif dan negativenya suatu buku. Baiklah, sebagai pereview yang ingin dikatakan baik, hehe, saya sampaikan dulu hal yang kurang sreg dari buku ini. Maaf ya Bunda Is, saya menemukan beberapa typo di buku ini. Misanya kata biaya terketik menjadi biayah, kata bayar terketik bayahr, atau terketik Alhmdulillah.  Haha .. rewel banget sih ya saya. Maklum ya bund, saya kan guru bahasa, kerjaannya mengamati dan mencari kesalahan tulisan siswa. Tapi typonya tidak sampai fatal mengganggu arti keseluruhan teks kok. Hanya saja akan lebih perfect jika typonya tidak ada sama sekali.

Dibalik keluhan remeh saya itu. Saya cukup terkejut dengan pilihan alur terbalik yang dipilih Bunda Is di buku kedua ini. Jadi tidak dikisahkan dari mulai awal mula kecilnya mas Andri, tapi dari kegelisahannya dulu dalam memperoleh beasiswa kuliah di Jepang. Lalu Bab berikutnya tentang menyelesaikan skripsi, pengalamannya HS, masa SMA dan SMP, SD dan masa kecilnya. Jadi di tengah jalan, kita bisa ber ‘Oooo tadinya begini to’. Dan itu -  Menarik. Jadi tidak membosankan.

Kalau di buku pertama, Bunda Is, menulis dengan menempatkan diri sebagai ibu. Di buku kedua setebal 146 halaman ini, Bunda Is ajaibnya memilih menempatkan diri dari sudut pandang si anak, sebagai tokoh ‘aku’ yang mengacu pada Mas Andri.
Memilih sudut pandang ini menurut saya membuat buku ini menjadi lebih kuat. Kita merasa dituturkan langsung oleh si tokoh utamanya. Dan seperti obrolan di dunia nyata, kisah yang diceritakan langsung oleh pelakunya kadang jadi terasa lebih istimewa.

Jika ingin memiliki buku ini, anda bisa berhungan langsung dengan penulisnya lewat Facebook dengan nama akun Madaniyah Isfandriati. Saya yakin beliau akan menyapa dengan ramah dan hangat. Memang begitulah beliau biasa bertutur kata. Buku Jangan Berhenti Bermimpi ini diterbitkan secara indie lewat penerbit Edwrite Publishing.

Kisah di buku ini adalah berdasar kisah nyata putra sulung Bunda Is yang bernama Andri. Sekarang Mas Andri ini sedang melanjutkan study di Kyusu University Fukuoka Jepang dengan beasiswa. Sesuai dengan passionnya, belajar tentang konservasi terumbu karang. Meski tidak mudah, Andri telah berhasil mencoba bangkit melawan keterpurukan. Mencoba menatap masa depan yang tak sesuram bayangannya dulu. Untuk detail kisahnya, silahkan anda nikmati sendiri buku ini halaman demi halamannya.

Bersama Bunda Is, berkerudung hijau tua di tengah anggota komunitas Gen JW Solo

It Should be No More Bullying at School

Dari buku ini saya terinspirasi untuk lebih berhati – hati dalam bersikap atau bertutur saat di depan kelas. Siapa tahu sikap atau tutur kata saya itu ada yang berlebihan sehingga terasa menjadi bullying bagi sebagian siswa. Karena siswa-siswa itu pada dasarnya kan anak-anak yang unik , berbeda karakternya. Apalagi, guru dan sekolah sekarang juga semakin didorong untuk melakukan Penerapan Pendidikan Karakter di sekolah. Guru dan sekolah harusnya selalu membuka komunikasi terbaik dua arah dengan orang tua siswa untuk membangun karakter baik siswa.

Pada akhirnya, kita semua sungguh berharap tidak ada lagi siswa yang melakukan bullying atau perundungan. Kisah Audrey maupun kasus bullying lainnya semoga tidak terjadi lagi pada remaja-remaja, apalagi di sekolah. Semoga sekolah bisa merangkul siswa-siswanya untuk bisa saling menghormati dan sayang teman. Tiap sekolah akan bisa menjadi rumah kedua anak-anak kita yang bebas dari bullying. Sehingga anak –anak kita itu akan bisa mencari cara terbaik untuk menemukan dan mengasah bakatnya. Untuk tidak berhenti bermimpi. Karena masa depan adalah milik mereka yang percaya akan indahnya impian.

" The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams." - Elanor Roosevelt









You Might Also Like

29 comments

  1. Perlu ada kerjasama menyeluruh dengan stake holder untuk mengatasi permasalahan ini, meminimalisir permasalahan sampai ke akar

    BalasHapus
  2. Terlepas dari banyak versi mana yg salah & mana yg benar soal kasus audrey yg namanya bullying itu sama sekali gak dibenarkan ya, memang kasus2 sperti itu banyak sekali ya dan gak sedikit menimbulkan trauma mendalam

    BalasHapus
  3. Huhuuu... Ternyata setelah aku cerna lagi, aku pernah pada fase itu ya, MOS. Inget banget saat masuk SMA dan kuliah, malah beberapa guru ikut melihat. Atas nama membentuk mental ttp aja tindakan seperti itu gak dibenarkan ya. Syukurlah kalau sekarang sudah dihapus.

    BalasHapus
  4. Setuju bun harusnya disekolah gak ada yang namanya bullying. Pemasangan CCTV kayaknya wajib deh disekolah. Tapi kadang kita juga ga bisa ngontrol yah kalo ada hal-hal yang memang gak terlihat oleh kita. Makanya biar anak-ank kita terhindar dari yang namanya pembully or korban bully kudu dikasih pembelajaran agama yang lebih baik agar akhlaqnya pun baik. Plus circle pertemanan yang baik pula

    BalasHapus
  5. Kok jadi penasaran sama jalan ceritanya yang sampai akhirnya Home Schooling ya? Soalnya saya juga pernah Home Schooling.

    Btw, MOS sekarang sudah lebih manusiawi.
    Aku juga ngerti MOS zaman dulu nggak enak banget. Aku tahu apa yang dirasakan Mas Andri ketika di suruh makan soup yang diberi air mineral karena kuahnya tidak sengaja tumpah.
    Parah ah! Belum cerita2 MOS lainnya.
    Huhu...

    Terima kasih review bukunya dan salam.

    BalasHapus
  6. kalau inget MoS jaman dulu emang penuh dengan bullying ya, knp harus begitu,heu, (ngalamin juga). btw, ada hikmahnya tapi ya dr kisah Mas Andri ini dengan mogoknya sekolah jadi beralih ke HS, dimana bisa belajar lebih fokus ke passionnya.

    BalasHapus
  7. Bullying, apapun itu alasannya, sama sekali nggak boleh dilakukan. Buatku pelaku atau korban sama-sama bermasalah. Pelakunya bisa jadi anak yang nggak bahagia di rumah kemudian dilampiaskan ke luar rumah. Korban akhirnya menjadi bermasalah juga padahal sebenarnya nggak salah. Takut melawan dan sebagainya. Peran orangtua dari rumah sangat besar sekali untuk menghindari putra-putrinya menjadi korban atau pelaku bullying. Rasa saling percaya di dalam keluarga dan menanamkan jiwa yang kuat dan berani membela diri serta berkata yang benar, bisa menjauhkan itu semua. Semoga anak-anak kita senantiasa dalam lindunganNya. Aamiin.

    BalasHapus
  8. yes setuju bangeet, sekarang ini bullying makin menjadi jadi, heu. gemes banget pas denger beritanya huhu. sekolah seharusnya bikin anak-anak semakin aman dari bullying sih. setuju banget sama judul bukunya, makasih bun sharingnya.

    BalasHapus
  9. Bullying ini kayaknya makin marak ya jaman sekarang, beda sama jaman kecilan kita dulu. Apa kira-kira ada pengaruh dari paparan internet ya? SEmoga kita semua dihindarkan dari kejadian buruk seperti ini ya Mba...

    BalasHapus
  10. Setuju bnget, bullying memang ga ada benarnya. Bagaimana pun itu merugikan korban, apalagi sekarang pergaulan ga hanya kontak fisik, tapi melalui media sosial, jadi tantangannya lebih besar lagi utk menangani bullying melalui media sosial....

    BalasHapus
  11. Masa MOS jadi masa - masa suram juga bagiku, zaman dulu bully saat mos tak begitu dianggap serius kan ya. Beberapa sekolah sekrg sudah meniadakan mos juga sih ya alhamdulilah.

    Buku nya bagus ya mbak, pengen baca juga jadinya

    BalasHapus
  12. Bullying yang cukup parah dan benar-benar masuk ke hati terdalam adik bungsuku.... Alhamdulillah dia bisa melewati masa itu yang cukup merusak kepercayaan dirinya dan sekarang menjadi manajer sebuah perusahaan e-commerce terkenal...tetapi bully tetap membekas dalam sampai enggan ketemu teman SD dan guru yang membela pihak yang membully....

    BalasHapus
  13. Kasus bully ini sangat meresahkan ya bun. Sayapun pernah merasakannya. Saya harus pindahkan anak saya sekolah SD karena sering di bully teman temannya.

    BalasHapus
  14. kasus bullying memang semakin memprihatinkan...keponakan saya pernah dibully di sekolah, tetapi gurunya enggak tau...hiks...semoga anak-anak kita selalu dilindungi dimanapun berada

    BalasHapus
  15. Ngenes dan was-was kalau sudah mendengar ttg bullying. Tapi bagaimana lagi, yang penting kita harus nguatin anak dan pahamkan betul efek buruk melakukan bully. Semoga anak-anak kita terlindung dari hal demikian ya, Mbak. Baik dari bullying juga jangan sampai jadi pelaku, nauzubillah

    BalasHapus
  16. Saya sempat mengalami masa MOS yg menyakitkan itu. Bukan saya yg kena bully sih, tapi sy menyaksikan teman-teman diperlakukan tidak baik hanya demi menumbuhkan ketangguhan, katanya. Dulu pingin sekali protest: kenapa harus seperti itu?
    Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada lagi MOS yg demikian ya.

    Membaca sekilas kisah Andri ini menimbulkan rasa optimis. Setiap anak pasti bisa bangkit dan meraih mimpi, setiap orang tua pasti mampu jadi guru. Luar biasa kisah Bunda Is dan suami.
    Nice sharing :)

    BalasHapus
  17. Saya setuju sekali dengan yang satu ini!

    BalasHapus
  18. Iya ya, guru juga bisa melakukan bullying ke anak didiknya secara nggak sengaja. Misal dengan meremehkan hasil karya anak didiknya.

    Benar bun, semoga para pendidik bs lebih peka akan masalah yang terjadi pada anak didiknya di sekolah. Sehingga bullying bs diminimalisir. Karena murid yg "nakal", sebenarbya akan tergerus oleh sistem organisasi pendidikan sekolah yg solid dan saling menghormati.🙏🙏🙏

    BalasHapus
  19. alih alih mau ikutan komentar tentang bullying, saya malah tertarik dengan gaya tulisannya mbk yang rapi, baku dan sesuai eyd. saya jadi malu dengan gaya tulisanku yang super amburadul

    BalasHapus
  20. Belakangan bullying ini menjadi momok yang menakutkan bagi semua kalangan terutama orang tua baru. Yes, aku merasa seperti itu. Tapi tidak sedikit juga orang tua sekarang (bukan baru, bagaimana aku menyebutnya?) juga merasa resah akan kasus seperti ini.


    Temanku yang seorang guru sampai resign karena enggak mau terlibat kasus seperti itu. (kebetulan di kelas lain ada kasus bullying dan menyalahkan gurunya). Aku enggak tahu kalau seperti ini yang salah siapa? murid? Orang tua? Atau memang gurunya?

    BalasHapus
  21. Saya juga seorang guru, tapi dulu jd guru pengganti pun juga rentan terhadap pembullyan siswa terhadap guru yg dianggap CUMA guru pengganti. Saya pernah mengajar dua bulan saja mengganti guru yg berangat haji. Itu aja rasanya hati saya sedih karena murid sekarang dengan mudahnya tidak menghargai orang tua terlebih guru :( dari situ saya sudah trauma mengajar.

    BalasHapus
  22. bulliying itu selalu ada mbak, kita gak bisa lepas dari itu, tapi paling enggak kita bisa mulai dari diri sendiri untuk tidak membulli orang lain :)

    BalasHapus
  23. untungnya waktu saya sekolah tidak pernah kena bulyng meskipun Di Acara MOS sekalipun,
    meskipun saya sering melihat teman teman lain pada kena bulying, aksihan juga seh lihat mereka apalagi kalau yang bulyng kakak2 kelas gitu, rasanya kok menjadi seperti adat kebiasaan dari setiap angkatan kelas,

    BalasHapus
  24. Memang adanya bullying yang terjadi pada anak-anak saat ini sudah terlalu jauh melampaui batas. Rasa prihatin tidak hanya kepada korban yang tidak seharusnya mengalami rasa sakit baik secara fisik maupun psikis, tetapi juga terhadap pelakunya. Tindakan yang mungkin sudah bisa diberi label amoral sepertinya juga merupakan penyakit mental. Entah darimana pengaruh yang membuat akal sehatnya tidak lagi mampu mengendalikan diri.

    Pengetahuan tentang parenting sangat diperlukan bagi para orang tua. Karena sadar atau tidak, kadang sikap orang tua walaupun maksudnya baik tetapi jika diterapkan dengan cara yang berbeda juga bisa melukai mental anak. Setiap anak punya sensitifitas berbeda dalam menyikapi ucapan dan tindakan orang tua dalam mendidik mereka.

    Tidak semua anak bisa dididik dengan cara yang lembut, begitupun sebaliknya. Untuk itu, mengenal jalan pikiran anak dan berkomunikasi dengan lebih intens bisa membuat kita memahami cara mendidik seperti apa yang bisa diterima oleh mereka.

    Jangan sampai anak-anak merasa terluka mental apa lagi oleh keluarganya sendiri tanpa kita sadari. Karena mereka bisa kemana saja dan kepada siapa saja akan mencari pelarian untuk mengurangi beban mentalnya. Bahkan dengan melakukan hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

    BalasHapus
  25. Benar, Bu Guru. Kami titip agar sekolah bebas bullying dalam bentuk apa pun. Kadang di mata kita sepele, tapi kita tidak pernah tahu luka hati seseorang - terutama anak-anak. Barangkali bisa lebih parah dari dugaan. Tolong temani dan bela mereka, baik yang menjadi korban mau pun pelaku. :)

    BalasHapus
  26. Bullying di aea sekolah kini makin memprihatinkan, pasalnya tidak sedikit aksi Bullying ini diketahui oleh pihak guru...makanya sepertinya mereka para Guru lebih mengawasi muridnya baik secara langsung ataupun secara private...

    BalasHapus
  27. Bully beneran bikin saya jadi parno banget mba, saya takut anak saya di sekolah di bully atau mungkin membully tanpa sengaja hiks.

    Semoga Allah melindungi anak-anak kita dan semoga generasi bully bisa segera hilang, aamiin :)

    BalasHapus
  28. Bullyin harus dihentikan, perlu ada bimbingan dari orangtua ataupun guru ataupun teman terdekatny agar tidak melakukan hal ini, karena dampak bullyin dapat menyebabkan hal hal yang tidak diinginkan seperti bunuh diri ataupun hal hal lainnya.., semoga tindakan bullyin ini tidak ada lagi lah,

    BalasHapus
  29. Agak sulit mencari tau pembulian terhadapa anak kita karena mungkin saja dia takut mengadu. Ini yang bikin gemes hehehe

    BalasHapus