UNBK 2019 dan Polemik Curhatan Warganet di Media Sosial

09.19

Tren membanjirnya komentar siswa di laman Instagram @kemdikbud.ri masih terjadi di UNBK 2019 kali ini. Banyak yang terkesan becandaan seperti:
@alipbanana “Saya tau pak tadi itu cuman april mop, jadi kapan soal yang aslinya pak?”  atau
@cindiwahyudi tadi waktu ngerjain, saya Cuma bisa nyanyi lagu hmmmm 2 jam pak."

Beberapa lainnya menumpahkan keluhan dengan lebih serius setengah putus asa :
@danndmk_Menurut pendapat saya, UN itu sangat menambah beban pikiran:"
@mardiyana_mardiyana Bikin soal mah gampang,Bicara mah gampang. Tp kenyataan di lapangan sangat berbeda,Blm yg komputer hang,blm yg lain2nya.

Lalu apakah komentar dan keluhan dari para generasi milenial dan generasi Z itu hanya untuk lucu-lucuan saja? Untuk ditertawakan bersama dan dianggap angin lalu sebagaimana layaknya tren sesaat.


Review UNBK 2019


Seperti kita tahu, pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 untuk tingkat SMK dan SMA telah selesai dilaksanakan. Pada 25 - 28 Maret 2019 telah diselenggarakan UN untuk jenjang SMK. Sedangkan UN untuk jenjang SMA/MA  telah terlaksana pada tanggal 1,2, 4 dan 8 April 2019. Dan untuk UNBK SMP/MTs  akan dilaksanakan 22-25 April 2019.

Sebagian besar sekolah di Indonesia telah melaksanakan UN dengan sistem UNBK. Untuk jenjang SMA, sebagai contoh, 97,8 persen berupa UNBK dan hanya 2,2 persen yang paper based. Ada tiga pelajaran utama yang diujikan di UN yaitu ; Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Untuk SMA ditambah satu mata pelajaran pilihan sesuai jurusan yang diambil siswa.

Masih ingat bagaimana dulu waktu sekolah kami menyelenggarakan UNBK untuk pertama kali di tahun 2015. Pontang-panting sekolah menyediakan komputer dalam jumlah banyak untuk siswa kelas XII yang jumlahnya hampir empat ratusan. Laboratorium komputer hanya berjumlah dua buah dengan komputer yang beberapa dalam keadaan rusak. Akhirnya ditambah sebuah lab tambahan, laptop guru semua dipinjam sekolah, beberapa laptop siswa juga dipinjam sekolah. Apalagi pernah waktu itu hujan angin, dengan banyak petir, sehingga servernya rusak. Wah, pengalaman pertama memang mendebarkan.

Sekarang setelah penyelenggaraan UNBK sudah semakin meluas, sekolah kami tidak lagi kesulitan mengadakan UNBK. Komputer sudah tersedia dalam jumlah yang cukup untuk diselenggarakan dalam tiga sesi. Tidak lagi perlu ada acara pinjam meminjam laptop. Proktor dan teknisi pun sudah semakin terlatih dan terampil. Hampir tidak ada kendala yang berarti pada teknis dan sarana prasarananya.

Suasana pelaksanaan UNBK di SMA N 2 Wonogiri pada 4 April 2019

Hanya saja, setelah UNBK untuk jenjang menengah atas yang telah terlaksana, saya amati kok keluhan siswa masih ada juga dalam jumlah yang tidak sedikit. Well,  anggapan saya sih, itu karena para peserta UNBK ini adalah anak-anak siswa SMK, SMA atau SMP yang merupakan bagian dari generasi Z. Dapat dikatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang lahir pada rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Sebuah generasi yang yang sudah begitu akrab dengan kecanggihan teknologi dan internet. Mereka sudah tidak asing dan bahkan multitasking untuk urusan ini itu sebagai bagian keseharian mereka. Dalam satu waktu mereka bisa saja nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik memakai headset. Mencurahkan pendapat dan keluhan melalui media sosial sudah menjadi hal umum.

Fenomena ramainya keluhan dari siswa peserta UNBK di laman instagram @kemdikbud.ri telah mencuri perhatian. Trend ini memang mulai booming sejak UNBK 2018 lalu. Dan di tahun ini pun berbagai curhatan lucu atau keluhan serius terlihat juga membanjiri linimasa media sosial. Benarkah itu semua hanya guyonan? Saya pun penasaran.

"Eh, orek-orekanmu mau di isi opo?" teringat saya komentar seorang siswa seusai mengawas silang UNBK hari kedua. Matematika dikerjakan dengan lesu di dalam kelas.
"Halah, wong gone Robby isine malah puisi :Cintaku Kandas di Tengah Jalan" siswa perempuan disampingnya menimpali.
Mereka itu memang sedang ledek-ledekan betapa puyengnya mengerjakan soal matematika. Apalagi tahun ini ada soal isian singkat. Tidak hanya saya, ternyata pengawas di sekolah lain juga menyatakan hal yang sama. Beberapa siswa yang perasa malah terlihat berkaca-kaca setengah putus asa setelah keluar ruang ujian.

Hari berikutnya, lewat WA, saya berdiskusi dengan beberapa siswa kelas XII yang saya ajar. Hampir sebagian besar murid saya menyatakan bahwa soal matematika ampun sulitnya. Tahu sih rumus dasarnya, tapi variasinya menyusahkan mereka. Untuk soal Bahasa Indonesia, mereka bilang cenderung bisa menguasai. Ekky, salah satu siswa saya berkomentar "Hanya itu buu, teks nya panjang-panjang. Bahasa Inggris juga."
"Apalagi membaca lewat komputer itu lain dari membaca lewat kertas fisik, bu. Pakai komputer tidak bisa dicoret garis bawah atau ditandai teksnya," keluh Marcella menambahkan.

Jadi menurut saya, komentar di media sosial itu bukanlah sekedar gurauan tanpa arti. Memang anak generasi sekarang gaya menyampaikan opininya ya seperti itu. Dengan humor, setengah satire. Dan itu sebenarnya - cerdas. Menurut saya, semua komentar dan keluhan di laman tersebut harusnya tidak dianggap sekedar angin lalu. Pihak pemerintah, sekolah dan guru bisa juga melakukan refleksi terhadap semua postingan itu. Termasuk juga para pembuat soal.

Dosa Pembuat Soal HOTS 


Salah satu komentar di IG @kemdikbud.ri mengenai UNBK

Haissyy..ngeri saya kalau membaca postingan yang sampai bawa - bawa dalil begini. Saya amati ada beberapa postingan yang bernada demikian. Malah ada yang terang-terangan mengatakan bahwa pembuat soal UN itu hanya memikirkan diri sendiri. Tidak memikirkan kemampuan siswa. Soal UN begitu susah bagi kebanyakan siswa sehingga mereka menganggap pihak Kemdikbud atau pembuat soal sebagai pihak yang 'nyusahin' aja kerjaannya. Dan menyusahkan orang itu dosa !

Seketika saja jadi baper, begitu kalau kata anak muda sekarang. Ini karena jelek - jelek gini saya pernah masuk seleksi sebagai pembuat soal yang diadakan PUSPENDIK di tahun 2017 lalu. Saya hanya nyumbang 60 soal saja sih diantara ribuan soal Bahasa Inggris lainnya untuk dijadikan Bank Soal UN DI Puspendik. Tetapi kan ngeri kalau gara-gara soal yang seuplik itu saya jadi dianggap ikut menyumbang dosa karena menyusahkan siswa yang mengerjakan Ujian Nasional.

Saya ingat waktu itu seleksinya cukup ketat. Tidak semua guru bisa masuk. Setelah proses perekrutan, kami pun diikutsertakan dalam semacam bimbingan teknis (bintek) yang diselenggarakan di beberapa kluster wilayah di Indonesia. Bulan Juli itu diikutkan bintek di Hotel Sheraton Jogja. Wah, jangan dikira bisa nyantai -nyantai saja. Materi-materi memang paling banyak difokuskan pada memahami dan melatih soal berjenis HOTS untuk soal pilihan ganda maupun isian singkat. Penyaji materi pun bukan sembarangan. Profesor dan ahli pendidikan maupun assesment dihadirkan untuk mengisi pemahaman tiap peserta.

Pembuat soal yang tidak berniat nyusahin saat bintek di Jogja : )

Setelah bintek selama empat hari tiga malam itu, tiap pembuat soal diberi tugas membuat soal dalam jumlah tertentu. Setoran dilakukan lewat aplikasi dari SIAP Puspendik. Jangan dikira pula langsung bisa lolos. PJ akan memberi komentar atau bahkan mengembalikan soal yang dianggap belum masuk kriteria berfikir tingkat tinggi. Soal yang hanya berdasar hafalan atau mencari ide pokok yang jelas-jelas tertulis diawal kalimat, pasti akan ditolak. Kami bisa saja bolak-balik melakukan revisi. Soal - soal yang kami buat pun dilengkapi dengan peringkat bintang.

Selesai? Beluuuum. berikutnya masih ada tahapan penelaahan soal oleh beberapa guru pilihan yang peringkat bintangnya cukup tinggi dibantu dengan penelaah ahli. Untuk Bahasa Inggris dilengkapi dari pihak relawan native speaker. Orang bule , kalau kita bilang. Setelah itupun masih ada tahapan lagi di tingkat pusat sebelum dimasukkan dalam sistem Bank Soal UN.

Tahun ini memang baru matematika yang diberi soal isian singkat. Kelak isian singkat bisa juga muncul di soal Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Asal tahu saja, penulis soal untuk Bank Soal UN sudah ditugaskan membuat soal jenis ini juga untuk yang bahasa. Hanya saja mungkin penerapan soal isian ini dilakukan secara bertahap.

Jadi kalau ada yang bilang, pembuat soal hanya memikirkan diri sendiri, ya tidak begitu lah. Apalagi kalau dibilang membuat soal mah gambang aja, sepertinya tidak juga ah. Apalagi, demi Alloh, saya yakin tidak ada satupun pembuat soal yang berniat menyusahkan orang lain. Apalagi nyusahin para generasi Z yang unyu dan imuut. Mana tegaa.

Keberadaan soal HOTS atau Higher Order Thinking Skills merupakan salah satu kambing hitam dari kebanyakan keluhan itu. Soal HOTS ini sebenarnya tidak selalu soal yang sulit, soal jenis ini memang jenis soal yang memerlukan pemikiran berlapis-lapis, tidak bisa langsung sekali tebak. Tujuannya pun sebenarnya mulia, yaitu agar siswa lulusan sekolah Indonesia kelak bisa bersaing di era pasar bebas. Berpikiran kritis itu mutlak diperlukan agar bisa menang di persaingan itu. Ya memang HOTS dan assesment dengan pola HOTS ini sudah menjadi bagian tuntutan dunia global. Masa sih kita tidak mau maju. Saya yakin, makin lama siswa tidak akan asing akan UNBK dengan soal HOTS.

Practice Makes Perfect

Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk merespon polemik keluhan netizen tentang UNBK itu? Ini sesungguhnya adalah hal yang lebih penting untuk kita pikirkan daripada saling menyalahkan. Menurut saya sebenarnya kuncinya adalah pada latihan. Practice makes perfect; Latihan akan membantu menuju kesempurnaan.

HOTS adalah skill atau keterampilan. Untuk bisa terampil akan suatu hal, kita tidak bisa hanya dengan membaca buku manualnya saja. Sama seperti belajar naik sepeda, mana bisa kita akan lancar menaikinya jika kita sepanjang waktu hanya membaca petunjuk manualnya saja tanpa berlatih mengendarainya. Berpikir dengan aras tinggi juga begitu, perlu dilatihkan.

Guru dan sekolah harusnya memikirkan untuk melatihkan HOTS di setiap jenis penilaian yang dilakukan. Tidak semua butir soal harus mengarah ke HOTS. Komposisinya bisa saja disesuaikan dengan konsep UN saat ini : 10 - 15 persen untuk penalaran, 50 - 60 persen untuk aplikasi, dan 25 - 30 persen untuk pengetahuan dan pemahaman. Setiap selesai assesment dilakukan review hasil nilainya untuk perbaikan dan pengayaan lebih lanjut.
Makin tambah kerjaan donk. Mana sempat?!

Ujian Online Kini Bisa Tanpa Internet 

"Menurut saya, UNBK kan online bu, seharusnya itu try out nya juga selalu dilakukan secara online," komentar Titan, salah satu murid saya di kelas XII IPA. Menurutnya dengan sering try out secara online, siswa akan terbiasa menghadapi soal yang ditayangkan lewat layar. "Biar suasananya juga dapet, bu." imbuhnya.

Benar kan, anak-anak sekarang itu sudah punya bekal berfikiran kritis dan berani mengungkapkan opini. Tinggal latihan lebih banyak, dan HOTS di soal UNBK tak akan jadi masalah besar lagi. Latihannya pun kalau bisa sesering mungkin secara online agar mereka terbiasa dalam melakukan ujian berbasis komputer

Memang diakui, sekolah kami belum selalu melakuan try out dengan computer based. Dari beberapa kali try out, hanya sekali kami lakukan secara online. Lainnya masih  try out secara paper based. Ini karena ujian online terasa lebih ribet untuk murid dalam skala besar. Apalagi kalau maunya diadakan di kelas dengan jaringan internet. Pernah ada wacana mau tes memakai laptop siswa atau android, tetapi siswa akan merasa dirugikan jika kuota internetnya dari mereka pribadi.

Beruntung sekarang sudah ada Pinisi Edubox yang spesifikasinya bisa dilihat-lihat di http://pinisi.io
Spesifikasi Pinisi EduBox

Pinisi Edubox merupakan perangkat berbasis Raspberry Pi 2 sebagai server untuk ujian online dalam jaringan lokal (intranet) tanpa tergantung akses internet. Adrian Febri, CEO PT Pinisi Teknologi Edukasi, menyatakan bahwa Edubox merupakan platform assesment atau penilaian online sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Edubox ini akan membantu guru dan pihak sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer secara lebih praktis. Lengkap dengan platform yang membantu guru dalam membuat soal sekaligus mengakses hasil tesnya secara lengkap.

Karena perangkatnya ringkas, maka penilaian berbasis komputer dapat dilaksanakan kapan saja dan tanpa memerlukan koneksi internet saat tes. Dengan Pinisi Edubox, kita tidak perlu melakukan setting dan sinkronisasi server yang rumit. Semua jadi mudah karena manajemen ujian ini dijalankan via Cloud. Di satu sisi guru dimudahkan dalam persiapan dan penilaian ujian, di lain pihak, siswa pun akan makin sering mendapat pengalaman melakukan penilaian berbasis komputer atau android tanpa menghabiskan kuota internet mereka.

Keterangan lebih lanjut akan bisa anda dapati di laman https://getedubox.com/

Penasaran dong siapa pengembang dibalik Edubox yang canggih dan praktis ini. Saya pun penasaran dan cari tahu. Dan ehmmm, rupanya Pinisi Edubox ini merupakan salah satu start up kebanggan Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, start up Pinisi EduBox dikirim sebagai wakil negara kita untuk ajang Creative Business Cup di Denmark. Terbukti, EduBox ini bukanlah produkan asal - asalan, apalagi abal-abal.

Berdasar data, hingga 2017, penggunaan Edubox sudah mencakup sekitar 300 sekolah, dengan total 50.000 users, 8.000 ujian terpublish, dan soal sebanyak 250.000 butir soal. Testimoni beberapa guru yang telah menggunakan Pinisi Edubox ini dapat anda amati di YouTube Pinisi Edubox . Tersedia beberapa tayangan tentang apa itu Pinisi Edubox, cara penggunaannya, cara penulisan soal, mengakses hasil nilai siswa, dan tutorial pemasangan Edubox.

Ilutrasi penggunaan EduBox di kelas dari tayangan  di YouTube

Dengan kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan Pinisi EduBox, sekolah -sekolah kini tidak perlu ragu-ragu untuk sering-sering  menyelenggaran test atau assesment secara online berbasis komputer. Tidak hanya untuk kepentingan try out, Pinisi EduBox ini bisa juga dimanfaatkan untuk Penilaian Tengah Semester, Penilaian Akhir Semester ataupun ulangan harian di kelas. Jadi Edubox pada dasarnya bisa digunakan untuk semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMA/SMK saja. Beberapa SMP dan SD di Bandung sudah ada yang aktif menggunakan assesment online dengan mengambil manfaat dari Pinisi EduBox ini.

Bahkan Bimbingan Belajar sebenarnya juga bisa memanfaatkan manfaat EduBox ini. Bisa dipakai untuk latihan di kelas-kelas kecil mereka saat les. Ini pasti akan lebih menarik perhatian peserta les jika dilakukan secara teratur. Berlatih soal dengan model berpikir aras tinggi secara online sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi siswa saat ini. Memang mungkin begitulah bagian dari tuntutan era 4.0 sekarang ini.

Dengan seringnya diadakan latihan tes dengan soal HOTS dan berbasis komputer, harapannya di masa mendatang, keluhan-keluhan atau komentar negatif akan UNBK tidak akan lagi memenuhi linimasa media sosial. Semua siswa akan merasa siap untuk sukses dalam menghadapi UNBK.

"Practice creates confidence. Confidence empowers you."- Simone Biles







You Might Also Like

41 comments

  1. Beginilah situasi jaman digitalisasi ya, kak .. hal apapun bisa mudah diunggah di sosial media dan dibaca masyarakat secara luas.
    Untuk itu sebaiknya, generasi muda lebih bijak dan selektif bisa memilah kira-kira ungkapan kata hati apa yang akan ditulis.

    Semangat mengajar, kak :)

    BalasHapus
  2. Yups, anak-anak muda sekarang memang lebih ekspresif. Ya mungkin sudah jamannya seperti itu hehe.

    BalasHapus
  3. Jaman saya dulu (neolitikum) 🤭🤭🤭, gak bisa mengeluh di kemendikbud meski soal-soal dianggap susah. Karena memang gak ada medianya. Paling ngomelnya cuma bareng teman-teman yang lain aja. 🤣🤣🤣. Tapi entah kenapa dulu saya sebel kalo teman2 mulai ngebahas jawaban setelah ujian selesai. Jadi inget jawaban saya tadi gak begitu 😂😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak ewa ini alirannya inul berarti Masyaa laluu biarlah masa laluuu.. eh kenal ngga sih lagu ini hehe

      Hapus
    2. kesalnya lagi kalo udah slse, terus yg piter ngerasa jawabannya banyak salahnya, padahal pas diujung dia nilainya paling tinggi. huhu.. bu Guru Dewi, btw keren hi pernah jadi bagian dr para pembuat soal. karantinanya katanya lumayan ribet dan menguras otak ya.

      Hapus
    3. Haha..betul itu.tahu tahu dia dipuji buguru karena nilainya tertinggi sekelas.
      Iya mba ghina, puyeng juga menjadi bagian pembuat soal, apalagi untuk emak emak macam saya 😊

      Hapus
  4. Saya malah salah fokus sama komentar salah satu bocah di ig kemenbud.
    Barangsiapa yang menyusahkan urusan manusia di dunia, niscaya Allah akan susahkan urusannya di akhirat.

    Hmmm saya jadi bayangin yang bikin soal nanti pas check in di akhirat nggak ke detect kartu tanda kematiannya. Malah dideportasi dari akhirat, balikin lagi ke bumi. Mungkin akan seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..dibalikin ke bumi lagi disuruh revisi soal hotsnya. komenan gaya anak masa kini mungkin ya

      Hapus
    2. check in di ahirat wkwkwk :D

      Hapus
  5. Saya jadi salah fokus sama komentar Kak Kartikanofi dan Kak Dewi Apriliana, seperti komentar Generasi Milenial sekali.
    Hehehe...

    Komentar generasi sekarang memang begitu Kak, setengah satire. Saya sependapat, hal ini menandakan bahwa generasi sekarang cerdas, kreatif, dan inovatif serta sekaligus berani. Berbeda dengan generasi 90-an.

    Keberanian anak-anak sekarang layak mendapatkan ruang agar dapat menjadi keberanian yang positif.

    Semangat dan bahagia selalu kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks einid. Hihi bu guru ikutan komen gaya kekinian. Semoga sistem pendidikan di negara kita kelak makin bisa melejitkan potensi generations muda seperti kalian

      Hapus
  6. Wow, saya baru tahu ada Pinisi Edubox, canggihnyaa :)
    Jadi inget dulu, sebelum ujian saya pasti beli penggaris kecil untuk menghitamkan jawaban hehehehe.. Time flies :D

    BalasHapus
  7. Jangan lupa setip dan rautannya, mbak kartika hehe.. Kalau dipikir pikir kasian juga ya produsen pensil, setip, penggaris berlubang jadi krkurangan omset garaw gara unbk 😊

    BalasHapus
  8. Teknologi zaman sekarang memang canggih tetapi terkadang kemampuan siswa belum tentu sama pola pikirnya..

    Jadi mungkin UN yang para siswa hadapi mungkin bisa membuat carut marut bagi dirinya. Karena terkadang apa yang dipelajari tidak sesuai dengan yang ada di UN ..😄😄

    BalasHapus
  9. Yups..mungkin begitu yaa. Siswa juga merasa begitu. Perlu latihan lebih banyak sebelum menghadapi unbk

    BalasHapus
  10. Sungguh membuka pikiran sekali mbak dewi, ternyata tipe soal HOTS itu yang jadi kendala para siswa, dan baru tau ada edu box juga yang bisa buat tryout UNBK keren banget teknologinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak yus, edubox ini membantu sekali jika sekolah atau bimbel ingin mengadakan try out atau test online tanpa internet

      Hapus
  11. Terlalu besar ongkos sosial dan materialnya saat ini, pro dan kontra. Sesungguh UN hanyalah bahan indikator tingkat kemampuan anak hasil belajar, namun dengan berbagai faktor penyertanya itu yang menyebalkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pro kontra memang masih cukup berkembang di masyarakat dan di kalangan siswa sendiri. Lama lama asal digarap dengan lebih serius, hal yg menyebalkan itu diharapkan bisa hilang ya misjuli

      Hapus
  12. Ya ampuun begitu ya generasi Z, antara mau ketawa dan sedih...

    Btw bener ciri anak.jaman now bisan ultitasking, sambil nyetir sambil main.hp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...mereka lincah dan aktif. Tidak lemot seperti emak-emak seumuran saya ☺

      Hapus
  13. Wow! Ternyata ada proses yang begitu rumit di balik UNBK dan UN, ya. Standing applause lah buat teman-teman tenaga pendidik.

    Mengenai bagaimana generasi Z mengungkapkan pemikiran secara verbal, adakalanya dinilai nggak sopan. Tapi saya juga berpikir bahwa guru selayaknya orangtua di sekolah, maka menghadapinya pun sama seperti menghadapi anak-anak generasi Z di rumah yang punya kecenderungan kritis. Dihadapi dengan tenang tapi tetap sebisa mungkin diarahkan disiplin, bukan langsung mengkritisi kekritisan mereka itu.

    MasyaAllah ya, betapa menjadi pendidik itu berpeluh keringat usahanya. Semoga senantiasa disehatkan dan dalam keberkahan ya, Bu Guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin yarobbal'alamin.. Setuju bund, kekritisan mereka harus diarahkan menuju kedisiplinan. Biar tidak terlihat liar atau kurang sopan

      Hapus
  14. Salut banget dengan kecerdasan anak zaman sekarang yang makin kritis, dan dituntut untuk belajar bijak menggunakan media sosial, suatu kemampuan yang diharuskan untuk jaman sekarang.
    Kalau dulu hanya sekedar menkaga mulut saat berkomunikasi lgsg, sekarang menjaga cara menulis juga.

    Terlebih salut juga pada para guru yang mampu menghadapi berbagai kendala zaman teknologi canggih, dan secara transparan dinilai langsung di sejuta media sosial.

    Belum lagi kemampuan membuat soal UNBK pasti tidak lah mudah dengan proses yang matang dan obyektif. Semangat terus guru, kami banyak belajar darimu, dan membutuhkanmu��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bund,anak anak sekarang sudah begitu menguasai teknologi dengan hebatnya. Guru yang masih lemot teknologi macam saya belajar banyak dari mereka 😊

      Hapus
  15. Semangat untuk yang sedang UNBK dan semangat juga untuk guru-gurunya. Semoga selalu dimudahkan Allah ya, saya juga dulu salah satu murid UN yang sering ngeluh setelah selesai ujian, wkwk. Susah emang sih bener, apalagi yang matematika. Ya Allah pengen nyerah. Alhamdulillah sudah melewati itu semua dan tinggal melewati ujian hidup, wkwkw. Makasih bu guru atas sharingnya, saya pun jadi semakin paham nih bagaimana guru-guru emang ingin memberikan yang terbaik untuk para muridnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu juga iya lho mbak.. Padahal waktu itu saya masih paper based. Belum komputerisasi seperti jaman sekarang

      Hapus
  16. Mungkin mereka protes karna ga rata aja sih mbak. Untuk di beberpa daerah pelosok kan gak bisa disamain sama anak-anak dari kota besar. Aku juga kadang gak setuju. Karna gak cuma soalnya aja yang sulit bagi mereka, fasilitas untuk mendukung kegiatan online pun sangat terbatas. Semoga kedepannya sistem pendidikan di Indonesia bakal lebih baik dan tersebar merata hingga ke pelosok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah mbak, banyak wilayah pelosok di Indonesia yang masih sulit akses internet nya.

      Hapus
  17. Memang saat ini kesan yang tertangkap adalah pelajaran sekolah semakin sulit dan rasanya semakin berat beban anak-anak tersebut..tapi sejatinya saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa perbanyak latihan....bisa pastinya karena terbiasa berlatih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba nining kesannya sulit karena baik gurunya maupun siswanya belum begitu terbiasa dengan konsep beepikris kritis. Latihan latihan dan latihan lagiii ☺

      Hapus
  18. Wah baru tau ada pinisi edubox ini mba. Bisa dipake di smua jenjang pendidikan kah? anakku tahun depan UN SMP euy. kudu disiapin sebaik mungkin nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaa..di Bandung malah bisa diterapkan ke kelas di sekolah dasar, mba

      Hapus
  19. Ternyata buat soal UN itu tidak mudah ya mbak, harus melewati berbagai seleksi...Pada intinya peserta ujian harus siap ya mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul mba eva, jangan dianggap terlalu beban berat. Asal siap ujian tidak akan menakutkan

      Hapus
  20. Anak saya kelas 2 SMP. Resah dia menghadapi UN kelas 3 nanti gimana, sempat berbinar karena ada kabarUN dihapus. Saya bilang iya, di hapus tapi yang namanya ujian akhir dari jenjang sekolah tertentu akan teap ada. kalau tidak ada ujian, darimana guru mengukur apakah yang diajarkan selama ini dimengerti? lalu bagaimana cara guru memberi yanda lulus pada siswa kalau tanpa ujian? hmm anak saya mulai mengerti, ujian adalah pertanggungjawaban siswa terhadap proses belajar mengajar selama 3 tahun ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups,ujian jangan dianggap dan diberlakukan sebagai beban.kasian anaknya. Yang penting berlatih and have fun with the exam 😊

      Hapus
  21. jadi senyum2 sendiri baca skrinsut komen di IG itu :)
    Apa cerminan mereka gak pede yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin lebih ke cerminan kreativitas mereka yang cukup tinggi ☺

      Hapus
    2. Ya bisa jadi mba. Era gen yang ekspresif

      Hapus
  22. Ada yang nulis... tadinya saya mau ngerjain soal. eh malah soal yang ngerjain saya hehehe

    BalasHapus