Upacara Dengan Pak Menteri di Perayaan Hari Guru Nasional

03.19

Tidak pernah menyangka bahwa pernah suatu saat saya berkesempatan mengikuti upacara Hari Guru Nasional dengan Pak Menteri di Gedung Kementrian Pendidikan. Nun jauh di ibukota sana. Semacam sebuah kesempatan dengan probabilitas sebesar nol koma nol nol sekian. Menurut perhitungan saya.


Tiga tahun yang lalu, pada bulan November tahun 2017 saya mendapat kesempatan langka tersebut. Wes ya pastinya dredege pool. Walaupun saya aslinya waktu itu cuma jadi salah satu peserta yang nyempil di deretan kursi undangan dengan terbengong-bengong. Gaya sih boleh. Pakai jas setelan hitam. Tapi yakin banget saya waktu itu pasti keliatan ndeso katrok banget. Hehe.

Gara Gara Literasi

Jadi begini ceritanya, tahun 2017 itu ada event lomba namanya Inovasi Pendidikan Karakter jenjang Sekolah Menengah Atas. Nah, saya itu aslinya cuma dipaksa ikut. Wong sehari-hari saya itu habis mengajar paling ya momong anak-anak di rumah dengan sesekali arisan, pengajian atau tilikan. 

Cuma mungkin karena saya terlihat yang suka membaca dan suka nguyak uyak murid di kelas untuk suka baca, maka Ibu Kepala sekolah saya waktu itu, Bu Endang Sunarsih, terus menyuruh saya menulis tentang program literasi di sekolah. Ternyata untuk diikutkan lomba.

Saya pikir bolehlah. Pokoknya untuk segala upaya yang membuat anak jadi suka membaca itu saya bangeeet. Terus dibantu Bu Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru lain, muncullah program Laskar Aksara di sekolah kami. Program yang mungkin dipandang agak beda, karena di program itu ada kegiatan yang namanya ‘Tukarkan Sampah Jadi Buku’. Jadi tiap kelas mengelola dan memilah sampah, terutama sampah plastik dan kertas. Kemudian di setor ke Bank sampah sekolahan trus jika saldonya sudah mencukupi, bisa ditukar dengan buku bacaan untuk pojok baca kelas. 


Tapi program Bank Sampah itu sudah mandeg sekarang. Selain karena pandemi, susah sekali mendapat tenaga relawan di sekolah yang berkomitmen terus mau mengurus dan memilah sampah. Ya wajarlah. Diupayakan serapi apapun memilahnya, itu tetap sampah namanya. Mungkin ini juga faktor yang membuat beberapa Bank Sampah tidak lagi berjalan lancar.

Untuk program literasinya sih tetap kami jalankan. Untuk membuat anak suka membaca itu bagaikan ‘a never ending journey’. Harus terus diupayakan terus menerus. Tidak ada berhentinya.

Rejeki Tak Terduga di Ibu Kota

Rasane koyo ketiban pulung. Keberuntungan besar. tak disangka – sangka, program ‘Sampah ditukar Buku’  itu Alhamdulillah terus tembus sebagai finalis nasional untuk presentasi di Jakarta. Lha disinilah mulai kendredegannya. Saya tahunya dulu cuma disuruh menuliskan. Bukan mempresentasikan. Apalagi presentasinya di event nasional.

Weeew rasanya mau saya wakilkan ke orang lain saja. Tapi kok yo eman – eman tiket pesawat’e gratis ke Jakarta. Haha.. numpak montor mabur gaiss.. ya pasti saya jadi nekat brangkaat. Wong yo waktu itu saya belum pernah sekalipun pergi jauh naik pesawat. Katrok banget kan.

Saking groginya mau numpak montor mabur itulah saya jadi lupa bawa jilidan laporan kegiatan saya. Yang saya siapkan cuma softcopynya saja. Hadeeh.parah. Jadinya pagi banget pas mau presentasi saya minta tolong ke resepsionis Hotel Diradja Jaksel untuk mengeprintkan laporan saya. Masnya resepsionis sudah memperingatkan, nanti habis banyak lho buk, ngeprint di sini agak mahal. Tapi ya sudahlah, saya bayar itu print print-an. Daripada nanti malu pas ditanya para jurinya.

Masalah berikutnya adalah memfotokopi dan menjilidkannya. Untung hari itu Jum’at, ada jeda sholat Jum’atan. Saya pas makan siang kebetulan ketemu Ibu Apon dari NTT yang juga lupa belum memfotokopi dan njilid laporannya. Nah trus kita akhirnya nekat nyebrang jalan raya depan hotel yang rameenya ngadubilah. Maklum jalanan Jakarta gaiiss. 

Daan ternyata fotokopian dekat hotel pada tutup! Ya iyalah kan pada sholat Jum’at. Memang katrok dan ndredeg itu kadang memakan habis akal sehat.hehe. Untung wantu itu ada orang di pinggir jalan mbantu nyetop bajaj, nyuruh ke fotokopian yang agak jauh dikit yang buka saat Jum’atan. Sebab yang nunggu memang mbak – mbak :)

Ya begitulah, tidak hanya tiket pesawat, saya akhirnya dapat bonus naik bajaj pula. Di kota saya tidak ada bajaj. Bisa buat cerita nih sensasi oglak uglik saat jalan. Presentasi Alhamdulillah berjalan cukup lancar. Tidak sampai semaput karena ndredeg.

Akhirnya acara tiga hari itu selesai. Mulai tanggal 24  sampai 26 November 2017. Rupanya ada satu kejutan. Seluruh finalis lomba karakter bangsa waktu itu diundang semua ke upacara hari guru. Katanya dulu-dulu yang bisa dapat undangan itu bagi yang juara – juara saja. Ini semua yang masuk finalis boleh ikutan. 

Alasannya sesuai tema hari guru waktu itu : ‘ Membangun Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Guru.’ Apalagi finalis ini juga sudah mewakili guru-guru se Indonesia, karena berasal dari berbagai pulau dan kota dari wilayah Timur sampai Barat. Memang hari guru itu pasnya tanggal 25 November tapi upacara perayaan nasional besarnya biasanya beberapa hari sesudahnya.

Berita itu tidak disampaikan sejak awal. Malam menjelang itu baru diberitahu, Besok seluruh finalis harus bangun dan bersiap pagi banget. Sarapan siap mulai jam 5. Segera masuk bis setelah selesai sarapan.” Ini Jakarta, meskipun jarak hotel dengan gedung Kemendikbud itu tidak sejauh sekolahan saya ke rumah simbah di ndeso. Tapiii..kata panitia, kalau kesiangan dikit saja Jakarta itu macet ya Bapak Ibuu. Nanti bisa gagal ikut upacara dengan Pak Menteri Pendidikan, Bapak Muhajir waktu itu.

Upacara dengan Pak Menteri

Weh, ini bukan upacara yang seperti biasanya di halaman sekolah itu. Ini upacara dengan Pak Menteri. Orang yang biasanya hanya kita lihat di tipi-tipi. Sepesial!

Nyampai di gedung Kemendikbud yang di antara kawasan gedung perkantoran bertingkat membuat saya terpesona. Ndomblong. Yungalah kantor tik guedii men. Ini kantor penting banget lho, ngurusi kepinteran anak-anak seIndonesia. Ck ck ck jadi berasa sangat merinding saya. Maka yang pertama kami lakukan adalah: poto – poto. Hehe..mumpung pak Menteri belum rawuh.

Paduan suara di bagian sisi kanan depan lapangan berlatih gladi bersih beberapa lagu nasional sambil cek sound. Bersemangat menyanyikan:
‘Pagiku cerahku. Matahari bersinar.
 Kugendong tas merahku di pundak. 
Selamat pagi semua. 
Kunantikan dirimu.
Di depan kelasmu. Menantikan kami. 
Guruku tersayaaang..guru tercintaaa..’
Lagu itu makin terasa grande dengan iringan ensambel musik dari siswa – siswa terpilih. 


Saya memang sangat jatuh cinta dengan lagu karya Melly Goeslaw ini.Bukan karena saya guru, trus ada kata sayang sayangnya di lagu itu. Bukan hanya itu. Lagu itu bagi saya spesial karena perasaan ceria dan senang itulah yang saya inginkan muncul di setiap anak saat mereka melangkahkan kaki di pintu gerbang sekolahan. Sekolah itu menyenangkan.  Belajar sama bu guru itu membahagiakan. Bonusnya ilmu, untuk kemajuan mereka sendiri agar menjadi bintang – bintang bagi papa mamanya di masa depan.

Eh, sudah dulu soal lagunya ya. Pak Menteri sudah mau pidato. Siaaaap grak! Pembina upacara memasuki lapangan upacara. Hormaaat grak!

Percayalah saya hormatnya setakzim mungkin, berasa Pak Menteri ada di depan saya. Walaupun saya sebenarnya sadar, Pak Menteri yang terhormat itu bahkan tidak akan menyadari kehadiran saya. Guru ndeso yang katrok, kebejan nyempil diantara tamu undangan. Tapi ini upacara yang sering ada di tipi – tipi nasional. Siapa tahu saya keshoting. Hihi
 
Selanjutnya upacara berjalan seperti layaknya jalan upacara biasanya.Tapi tetap saja, meskipun saya tidak diumumkan jadi juara. Upacara ini akan terus saya kenang sebagai salah satu upacara teristimewa. Satu yang kemudian saya sangat percaya , Allah itu kalau mau memberi rejeki ada saja jalannya. Bahkan bisa tak terduga. Hitungan Dia kadang berbeda dengan hitung-hitungan cara nalar kita yang sangat terbatas.

Dulu saya yang guru biasa saja, kadang pernah komat kamit di depan tipi, sekali-kali pengen juga ya upacara bareng orang penting di kota besar gitu. Lha kok hari itu bisa kelakon. Terwujud. Itu jauh dari hitung-hitungan saya. Maka hati –hati dengan ucapanmu. Siapa tahu itu yang akan diwujudkan oleh yang Maha Mengabulkan Keinginan.

Akhir cerita, Selamat hari guru semuanyaa. 
 
Setiap kita sebenarnya adalah guru, jadi guru yang terutama dan pertama untuk anak –anak kita. Doa yang terbaik untuk guru – guru kita. Dan Mari kita impikan bahwa setiap anak Indonesia bisa berkesempatan belajar dengan riang bahagia. Seperti di lagunya Melly yang ditampilkan di upacara bersama Pak Menteri waktu itu.





You Might Also Like

6 comments

  1. Wooh, menterinnya bukan Pak Nadiem yaa mbak, aku kira belio. Ini sepertinya kegiatan tahun lalu kah, mengingat saaat ini jg sedang pandemi, nampaknya tidk bisa mengadakan upacara secara langsung yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas dodo, saat pandemi ini upacara di depan leptop aja. Streaming youtube. Beda sih ya rasanya,lebih mantep kalau lamgsung :)

      Hapus
  2. Waahh asik nih waktu tahun 2017 Bu guru Dewi bisa ke Jakarta memeriahkan hari Guru Nasional dikantor kemendikbud Senayan Jakarta tepatnya di Jl.Jendral Sudirman yaa Bu guru..😊😊

    Bicara soal hari guru Nasional saya jadi teringat lagu favorit saya sewaktu sekolah untuk sang guru.😊

    Terpujilah
    Wahai engkau ibu bapak guru


    Namamu akan selalu hidup
    Dalam sanubariku

    Semua baktimu akan kuukir
    Didalam hatiku

    Sebagai prasasti terimakasihku
    Tuk pengabdianmu

    Terpujilah wahai ibu bapak guru
    Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

    Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku

    Sebagai prasasti terimakasihku
    Tuk pengabdianmu

    Engkau bagai pelita dalam kegelapan
    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

    Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa..😊👏👏

    Padahal waktu sekolah saya murid paling bandel yang nggak ketulungan.
    🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwooow...seratuss mas satria.pinterrr banget nyanyinya. Pasti dulu cita citanya ingin jadi tentara yaak ehehe..siaaap grak

      Hapus
  3. Haduuuh ...memoriku meronta. Pikiranku melayang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..teringat upacara neng kutho guedii

      Hapus